Batik Mangrove Lembar Selatan, Inovasi Baru Angkat Potensi Desa Wisata
- 10 Agt 2026 13:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Hutan mangrove di Desa Lembar Selatan, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak lagi sekadar dipandang sebagai benteng alami pesisir. Potensi tersebut kini mulai diarahkan menjadi sumber inspirasi sekaligus bahan baku produk ekonomi kreatif melalui pengembangan batik dengan pewarna alami berbasis mangrove.
Gagasan itu diwujudkan melalui pelatihan pembuatan warna alami dari tanaman mangrove yang menyasar kelompok PKK di Desa Lembar Selatan. Program tersebut dirancang untuk mengubah potensi lingkungan yang selama ini belum dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memperkuat karakter desa wisata bahari.
Ketua Pelaksana, Dr. Lilik Hidayati, S.Si., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada keterampilan membatik, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Pelatihan ini diarahkan agar masyarakat, khususnya kelompok PKK, tidak hanya menjadi konsumen, tetapi mampu menjadi produsen yang menghasilkan produk unggulan berbasis potensi lokal,” ujarnya, Senin 10 Agustus 2026.
Menurut Lilik, Desa Lembar Selatan memiliki kawasan hutan mangrove jenis Rhizophora spp. sekitar 70 hektare. Kekayaan tersebut selama ini belum dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan baku pewarna tekstil.
Kondisi itu justru dipandang sebagai peluang besar. Melalui pengolahan yang tepat, mangrove dapat menghasilkan pewarna alami yang menjadi karakter pembeda bagi produk batik Desa Lembar Selatan.
“Potensi mangrove yang ada menjadi salah satu alasan utama mengapa bahan ini dikembangkan sebagai pewarna alami. Selain tersedia di lingkungan desa, pemanfaatannya juga diarahkan agar tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan,” katanya menegaskan.
Pengembangan batik mangrove memiliki misi yang lebih luas. Produk tersebut diharapkan mampu menjadi oleh-oleh khas desa sehingga belanja wisatawan dapat lebih banyak berputar di tingkat masyarakat lokal.
Program ini juga dilatarbelakangi persoalan kebocoran ekonomi pariwisata yang diperkirakan mencapai sekitar 80 persen. Artinya, sebagian besar transaksi wisatawan masih berpotensi terjadi di luar desa.
Karena itu, keberadaan batik mangrove diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat rantai ekonomi lokal.
Lilik menjelaskan, batik mangrove dirancang bukan sekadar sebagai kain bermotif, tetapi sebagai produk yang membawa cerita mengenai Desa Lembar Selatan. Unsur ekosistem mangrove, Pantai Cemare hingga nilai spiritual yang berkaitan dengan maqam keramat dapat diterjemahkan menjadi motif yang memiliki karakter tersendiri.
“Motifnya dikembangkan secara tematik agar batik tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga menjadi media untuk menceritakan alam, budaya dan identitas Desa Lembar Selatan kepada wisatawan,” ucapnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya menciptakan identitas visual baru bagi desa. Jika songket merepresentasikan warisan budaya leluhur, batik mangrove diarahkan menjadi simbol kreativitas dan inovasi masyarakat masa kini.
Pemilihan mangrove sebagai bahan pewarna tidak dilakukan tanpa alasan. Tanaman mangrove jenis Rhizophora spp. diketahui memiliki kandungan tanin dan senyawa yang dapat dimanfaatkan dalam proses pewarnaan alami.
Ekstrak dari bagian tanaman tertentu, termasuk kulit batang, propagul maupun bagian lainnya, dapat menghasilkan warna bernuansa cokelat hingga abu-abu yang menjadi karakter tersendiri pada kain.
Selain aspek estetika, penggunaan pewarna alami juga membawa pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Konsep tersebut dinilai sejalan dengan pengembangan ekowisata dan pariwisata berkelanjutan.
“Batik mangrove memiliki nilai tambah karena menggabungkan unsur ekonomi kreatif dengan kepedulian terhadap lingkungan. Produk yang dihasilkan diharapkan memiliki karakter eco-friendly yang semakin relevan dengan pasar wisatawan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak langsung menghasilkan kain batik. Mereka diperkenalkan dengan sejumlah tahapan produksi, mulai dari ekstraksi bahan pewarna, mordanting, pembuatan pola, pencantingan, pewarnaan hingga pelorodan.
Bahan mangrove terlebih dahulu diekstraksi untuk memperoleh zat warna alami. Setelah itu, kain melalui proses mordanting agar serat lebih siap menerima warna.
Tahap berikutnya meliputi ngeblat untuk memindahkan desain motif ke kain, nyanting menggunakan malam, kemudian nyolet untuk memberikan warna pada bagian tertentu.
Setelah proses pewarnaan selesai, kain menjalani tahap nglorod, yakni pelepasan malam dengan cara direbus. Kain kemudian dikeringkan hingga siap menjadi produk batik.
Seluruh proses tersebut dipadukan dengan pendekatan ramah lingkungan dan pendampingan dari tim pengusul.
Pelatihan ini menyasar 30 mitra yang berasal dari kelompok ibu-ibu PKK di tujuh dusun. Mereka diproyeksikan tidak hanya menguasai teknik dasar membatik, tetapi juga mampu mengembangkan produk secara mandiri.
Target lebih jauh adalah lahirnya unit usaha batik mangrove pertama di Desa Lembar Selatan dengan kemampuan produksi sekitar 30 hingga 100 lembar batik per bulan.
Jika target tersebut tercapai, posisi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak menjadi pengecer dengan margin keuntungan kurang dari 10 persen dapat bergeser menjadi produsen yang memperoleh nilai tambah lebih besar.
Pemberdayaan kelompok perempuan juga menjadi bagian penting dari program tersebut. PKK didorong menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan ekonomi kreatif desa.
Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat kain, tetapi diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, penguatan kapasitas masyarakat serta tumbuhnya usaha yang dapat dikelola secara mandiri.
Dari sisi pasar, batik mangrove dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas oleh-oleh wisata.
Desa Lembar Selatan berada di kawasan yang memiliki akses strategis terhadap Pelabuhan Lembar dan Gili Mas, yang menjadi bagian dari konektivitas perjalanan Lombok, Bali dan kawasan Indonesia Timur.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi produk lokal untuk diperkenalkan kepada wisatawan yang datang maupun melintas di kawasan tersebut.
Batik juga memiliki keunggulan karena relatif ringan, fleksibel dan dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk produk. Tidak hanya kain, motif mangrove dapat diaplikasikan pada aksesori maupun produk kreatif lainnya.
Strategi pemasaran pun disiapkan melalui penguatan merek, media sosial, marketplace desa serta saluran penjualan secara langsung.
“Pemasaran digital akan menjadi bagian dari pendampingan agar produk tidak hanya dikenal di lingkungan desa, tetapi juga dapat menjangkau konsumen yang lebih luas,” kata Lilik.
Keberlanjutan menjadi salah satu aspek yang dipersiapkan sejak awal. Setelah pelatihan, kelompok mitra diarahkan membentuk unit usaha yang dapat berjalan secara mandiri.
Pendampingan lanjutan, evaluasi berkala, pengembangan motif, inovasi teknik pewarnaan serta perluasan jaringan pemasaran menjadi bagian dari strategi menjaga keberlangsungan usaha.
Pemerintah desa juga diharapkan terus terlibat dalam memberikan dukungan kebijakan dan fasilitas agar program tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai.
Pada akhirnya, keberhasilan program akan diukur dari kemampuan masyarakat mengadopsi dan menjalankan usaha secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada pendampingan tim pengusul.
Program tersebut juga diarahkan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya pengentasan kemiskinan dan penciptaan pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
“Harapannya, batik mangrove bukan hanya menjadi hasil pelatihan sesaat. Produk ini harus berkembang menjadi identitas Desa Lembar Selatan, membuka peluang usaha dan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....