Lima Kabupaten di NTB Siaga Darurat Kekeringan

  • 28 Jul 2026 11:19 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Lima kabupaten di NTB berstatus siaga kekeringan akibat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini.
  • BPBD NTB menyiapkan distribusi air bersih, mengoptimalkan 100 tangki air, serta mengusulkan pembangunan 106 sumur bor.
  • Gubernur Lalu Muhamad Iqbal memastikan bantuan akan diprioritaskan ke wilayah yang paling membutuhkan setelah proses asesmen.

RRI.CO.ID, Mataram – Lima kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus siaga kekeringan. Kelimanya adalah Kabupaten Dompu, Sumbawa, Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan Lombok Barat.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengatakan status tersebut masih berada pada tahap siaga dan belum ditingkatkan menjadi tanggap darurat. Meski begitu, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi, salah satunya distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

"Yang sudah siaga ada lima kabupaten. Kalau kondisi memburuk, statusnya bisa ditingkatkan menjadi tanggap darurat," kata Sadimin, Selasa 28 Juli 2026.

Menurut dia, BPBD mewaspadai musim kemarau tahun ini yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, sekitar 10 bulan. NTB juga masuk empat besar provinsi dengan tingkat kerawanan kekeringan tertinggi di Indonesia.

Untuk menghadapi potensi darurat, BPBD akan memaksimalkan sumber daya yang tersedia. Jika kebutuhan meningkat, pemerintah daerah akan mengajukan Belanja Tidak Terduga (BTT) dan bantuan Dana Siap Pakai (DSP) dari BNPB.

Saat ini BPBD NTB memiliki sekitar 100 tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Namun, Sadimin mengakui jumlah tersebut masih terbatas jika kekeringan meluas.

"Kalau kebutuhan bertambah, kami ajukan tambahan anggaran sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.

Hingga kini, permintaan distribusi air bersih baru datang dari Kabupaten Sumbawa Barat dan Lombok Barat. Penyaluran akan disesuaikan dengan ketersediaan air dan kebutuhan masing-masing daerah.

Selain distribusi air bersih, BPBD juga mengusulkan pembangunan 106 sumur bor, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan cukup parah. Biaya pembangunan satu sumur diperkirakan mencapai Rp300 juta hingga Rp350 juta, tergantung kondisi lokasi dan potensi air tanah.

"Belum tentu desa miskin ekstrem tidak memiliki air. Ada juga daerah lain yang mengalami kesulitan air bersih," kata Sadimin.

Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pembangunan sumur bor akan diprioritaskan untuk daerah yang paling membutuhkan. Pemerintah masih melakukan asesmen sebelum menentukan lokasi.

"Karena anggarannya besar dan jumlahnya terbatas, kami akan memilih wilayah yang paling mendesak," ujar Iqbal.

Iqbal menambahkan seluruh armada tangki air milik Pemprov NTB telah dikerahkan untuk membantu masyarakat. Armada tersebut berasal dari BPBD, Dinas Sosial, hingga Biro Umum. Pemerintah juga akan mendapat tambahan bantuan dari BNPB.

Menurut Iqbal, saat ini sekitar 50 kecamatan di NTB telah terdampak kekeringan, terutama di kawasan selatan Pulau Lombok. Pemerintah berupaya memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....