Mendongeng Gaya Tempo Dulu saat HAN, Gubernur Iqbal: "Man Juluk Man"

  • 26 Jul 2026 14:20 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan mendongeng menggunakan gaya tempo dulu, "Man Juluk Man", untuk mengajak orang tua lebih hadir dalam kehidupan anak.
  • Iqbal menegaskan kasih sayang dan kehadiran orang tua merupakan kebutuhan utama agar anak-anak NTB tumbuh ceria, aman, dan memiliki masa depan yang baik.
  • Pemprov NTB juga menyiapkan Sekolah Rakyat di Lombok Timur sebagai salah satu solusi untuk membantu anak-anak yang terdampak persoalan sosial akibat tingginya angka pekerja migran.

‎RRI.CO.ID, Mataram – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) berlangsung dengan cara yang tak biasa. Di hadapan ratusan anak, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memilih menyampaikan pesan melalui dongeng.

‎Gubernur menghidupkan kembali tradisi bercerita yang dulu akrab di tengah keluarga. Suasana langsung mencair ketika Iqbal membuka dongeng dengan seruan khas, "Man juluk man...". Anak-anak pun serempak menjawab, "Maaaan!".

‎Bagi Iqbal, cara sederhana itu bukan sekadar nostalgia. Ia ingin mengingatkan bahwa dongeng merupakan salah satu media membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

‎"Setiap orang tua harus hadir untuk anak-anaknya," kata Iqbal saat peringatan Hari Anak Nasional 2026 tingkat Provinsi NTB di Mataram, Minggu 26 Juli 2026.

‎Menurutnya, kehadiran orang tua tidak cukup dimaknai sebagai berada di rumah atau menemani secara fisik. Yang lebih penting adalah menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang yang menjadi fondasi utama tumbuh kembang anak.

‎Iqbal berharap seluruh anak di Nusa Tenggara Barat dapat tumbuh menjadi pribadi yang ceria. Karena itu, ia menilai pemenuhan kebutuhan anak tidak hanya sebatas sandang, pangan, dan pendidikan, tetapi juga kebutuhan emosional.

‎"Anak-anak NTB harus ceria. Itu menjadi tugas kita bersama untuk memastikan mereka tumbuh bahagia. Kebutuhan yang paling penting adalah kasih sayang. Karena itu, pesan saya kepada para orang tua, hadirlah untuk anak-anak kita," ujarnya.

‎Dalam kesempatan tersebut, Iqbal juga menyinggung persoalan sosial yang muncul akibat tingginya jumlah pekerja migran asal NTB. Menurut dia, tidak sedikit anak yang harus tumbuh tanpa kehadiran salah satu atau bahkan kedua orang tuanya karena bekerja di luar daerah maupun luar negeri.

‎Ia menilai kondisi itu berpotensi memunculkan persoalan psikologis yang jika tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi masalah sosial pada masa mendatang.

‎"Kita melihat banyak isu sosial muncul sebagai residu dari persoalan pekerja migran, terutama yang berkaitan dengan anak-anak. Ini menjadi perhatian khusus karena kita tidak ingin melahirkan generasi yang tumbuh dengan kegelisahan yang tidak pernah terselesaikan," katanya.

‎Sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB tengah mengembangkan program Sekolah Rakyat di Kabupaten Lombok Timur. Daerah itu dipilih karena menjadi wilayah dengan jumlah pekerja migran yang tinggi.

‎Iqbal mengatakan rencana pembangunan Sekolah Rakyat telah mendapat persetujuan dari Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Sosial. Program tersebut diharapkan menjadi ruang yang tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga pendampingan sosial bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....