Ribuan Hektar Savana TN Tambora, Terbakar
- 10 Jul 2026 13:45 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan padang savana di Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat. Sedikitnya 1.956 hektare savana terbakar, sehingga Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan turun langsung melakukan upaya pengendalian agar api tidak semakin meluas.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, dalam siaran persnya mengatakan kebakaran tersebut tidak hanya mengancam habitat satwa liar dan kawasan konservasi bernilai tinggi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
" Selain mengganggu kualitas udara, kebakaran dapat memengaruhi aktivitas wisata alam," kata Dwi dalam siaran persnya yang diterima, Jum’at, 10 Juli 2026.
TN Tambora merupakan kawasan pelestarian alam seluas 71.645,64 hektare yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia.
Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa endemik dan dilindungi, di antaranya kakatua kecil jambul kuning, nuri kepala merah, kirik-kirik Australia, serta rusa Timor.
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Minggu (5/7) di wilayah Resort Piong. Kondisi cuaca yang kering, vegetasi savana yang mudah terbakar, embusan angin cukup kencang, serta terbatasnya sumber air menyebabkan api dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas.
Sejak awal kejadian, Balai Taman Nasional Tambora bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) melakukan pengendalian awal dengan membatasi penyebaran api. Untuk memperkuat operasi pemadaman, Kementerian Kehutanan juga mengerahkan satu regu Manggala Agni ke lokasi kebakaran.
Operasi pemadaman difokuskan pada upaya menekan laju penyebaran api dengan menyesuaikan strategi terhadap karakteristik medan di kawasan TN Tambora.
Menurut Dwi, bentang alam savana memiliki karakteristik yang membuat api sangat mudah merambat, terutama saat angin bertiup kencang dan ketersediaan air sangat terbatas. Oleh karena itu, strategi pemadaman terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan agar kebakaran dapat dikendalikan secara efektif.
"Hingga saat ini operasi pemadaman masih terus berlangsung dengan melibatkan seluruh unsur," katanya.
Kementerian Kehutanan juga mengimbau pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pengelola kawasan konservasi, pelaku wisata, dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Selain upaya pemadaman, Kementerian Kehutanan menegaskan akan menindak tegas setiap pelanggaran hukum yang terbukti menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dwi menegaskan, perlindungan terhadap TN Tambora tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Pemerintah akan melanjutkan tahapan pemulihan ekosistem guna memastikan fungsi ekologis kawasan tetap terjaga.
"Pemulihan kawasan akan dilakukan secara bertahap bersamaan dengan penguatan patroli, deteksi dini, dan pelibatan masyarakat agar fungsi ekologis kawasan serta manfaatnya bagi masyarakat tetap terjaga dalam jangka panjang," ujarnya.
Kebakaran savana di TN Tambora menjadi peringatan penting akan tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Sinergi pemerintah, aparat, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk menjaga kelestarian salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....