HATHI Dompu: Kerusakan Hulu Ancam Cadangan Air Dompu

  • 02 Jul 2026 15:16 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis adanya penurunan debit air hingga sekitar 40 persen di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat, terutama pengguna sumur bor dan air tanah dangkal, seiring memasuki puncak musim kemarau.

Anggota Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Kabupaten Dompu, Aris Ansary, mengatakan Dompu telah memasuki musim kemarau sejak dua bulan terakhir.

Dampaknya kini mulai terlihat dengan menurunnya kedalaman air tanah di sejumlah wilayah.

“Sekarang kita berada di puncak-puncak kemarau, dan kemungkinan di bulan Agustus dampaknya akan sangat terasa sekali,” ujarnya, Kamis, 2 Juni 2026.

Menurut Aris, penurunan debit air saat ini terutama terjadi pada air tanah dangkal atau air permukaan yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat.

“Sudah mulai terjadi penurunan kedalaman air tanah, terutama air tanah dangkal. Ini mulai dirasakan masyarakat Dompu, khususnya pengguna bor air tanah,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama berkurangnya cadangan air adalah perubahan tata guna lahan di wilayah hulu yang semakin masif.

Kondisi itu menyebabkan berkurangnya daya serap tanah terhadap air hujan saat musim penghujan.

“Air tanah dangkal ini hampir sebagian besar berasal dari penyerapan air hujan. Ketika area resapan di hulu rusak, maka kapasitas air yang tersimpan otomatis ikut berkurang,” jelasnya.

Aris memperkirakan, kondisi cadangan air akan semakin kritis pada Agustus hingga September mendatang.

Bahkan, jika tidak ada langkah antisipasi, penurunan debit air diperkirakan akan semakin drastis.

Ia menyoroti aktivitas perambahan hutan yang kini semakin meluas, terutama untuk budidaya jagung yang telah masuk ke kawasan tangkapan hujan.

Budidaya jagung sekarang sudah masuk ke area-area yang seharusnya menjadi daerah tangkapan hujan.

"Padahal gunung-gunung di wilayah hulu itu memiliki fungsi vital menyerap air dan menjadi sumber mata air,” tegasnya.

Menurutnya, kawasan hulu di sekitar Desa Katua hingga perbatasan Bima merupakan zona penyangga utama ketersediaan air baku di Dompu, baik untuk air permukaan maupun air tanah dalam.

Wilayah tersebut dinilai memiliki peran strategis sebagai benteng ekologis yang menjaga keseimbangan cadangan air di Kabupaten Dompu.

Aris mengingatkan masyarakat agar lebih sadar terhadap pentingnya menjaga hutan, terutama di area tangkapan hujan.

Sebab, kerusakan di wilayah hulu hari ini akan berdampak langsung terhadap krisis air di masa mendatang.

“Ini yang harus kita sadari bersama," katanya.

Jika perambahan hutan dan alam h fungsi lahan di wilayah yang berpotensi menyerap air, terus dilakukan sampai ke area tangkapan hujan.

"Karena itu sama saja mengancam sumber air kita sendiri,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....