Pertanian Selatan Lombok yang Tepat, Aman, dan Berkelanjutan

  • 30 Jun 2026 19:24 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pulau Lombok memiliki lebih dari 150 ribu hektar lahan pertanian yang dapat ditanami jagung, padi dan kedelai.

RRI.CO.ID, Mataram - Pertanian di Lombok bagian Selatan yang kering bukan tanpa tantangan. Untuk tetap dapat bercocok tanam, aman dari gangguan hama serta memegang prinsip berkelanjutan, lahan pertanian di Lombok Selatan memerlukan kecepatan dalam bekerja, dan efisiensi dalam bertindak.

Pulau Lombok memiliki lebih dari 150 ribu hektar lahan pertanian yang dapat ditanami jagung, padi dan kedelai. Ada 210 ribu hektar termasuk lahan pertanian irigasi. Sementara, total lahan kering di Nusa Tenggara Barat adalah 893 ribu hektar. Lahan yang nota bene milik petani pra sejahtera dan terus diperjuangkan kesejahteraanya agar tetap meningkat. Salah satu perjuangan itu berupa menatakelola sumber daya air pertanian untuk distribusi yang seadil-adilnya.

Pada praktiknya, tantangan pertanian lahan kering di Lombok khususnya di Lombok Selatan, tidak hanya sebatas ketersediaan air dan mengalirkannya ke saluran irigasi. Tetapi, ikut mencegahnya dari bencana banjir. Sebab, aliran banjir mampu menggerus humus yang ada di permukaan tanah dan membuangnya ke hulu sungai. Kondisi itu sering terjadi ketika memasuki puncak musim hujan, yaitu, antara bulan September hingga Februari.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Ahmad Suriadi mengatakan, selain harus berjuang menjaga top soil tetap ada di tanah, para peneliti juga melakukan riset tentang kondisi lahan pertanian NTB. Penelitian menunjukan kandungan organik lahan pertanian di Lombok berada di bawah angka satu persen. Sementara untuk bisa mendapat predikat lahan sehat organik harus di atas 4 persen. Jika di bawah itu, maka tanah pertanian di Lombok telah masuk kategori kritis.

“Tanah yang kritis, bukan lantas sehat oleh pemupukan dengan volume yang banyak. Pemupukan yang berlebih justru dapat merusak kelestarikan lingkungan. Sehingga diperlukan penerapan teknik smart climate agriculture untuk mengatasi kerusakan yang dihadapi,” kata Suriadi di dialog Merajut Pangan Bumi Gora bertopik Sistem Pertanian Tepat, Aman dan Berkelanjutan di NTB, 8 Mei 2026.

Dalam praktik yang sama, sebut Suriadi, cukup banyak teknologi yang telah dianjurkan peneliti seperti penanaman varietas tanaman padai yang tahan kering. Tanaman padi ini memakai prinsip air secukupnya dan menggunakan petisida alami untuk mendapatkan indikator kandungan organik yang cukup.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....