Manisnya Tebu Tambora, Mengubah Nasib Petani Pekat dari Jagung menuju Kemakmuran

  • 27 Jun 2026 16:19 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Jika Anda berkunjung ke Dusun Aik Ampat di Desa Pekat, Kabupaten Dompu, Anda akan disuguhi pemandangan yang tak biasa bagi sebuah kampung petani. Rumah-rumah gedong permanen berdiri berjejer, lengkap dengan mobil-mobil yang terparkir rapi di halaman rumah warga.

Kampung di kaki Gunung Tambora ini sedang menikmati babak baru kesejahteraan, semuanya berkat hamparan hijau tanaman tebu yang kini menggeser dominasi tanaman jagung.

Setiap pagi, urat nadi perekonomian di desa ini berdenyut kencang. Truk-truk besar bermuatan batangan tebu hilir mudik membelah jalan tani, mengangkut hasil keringat warga menuju pabrik pengolahan. Bagi masyarakat setempat, tebu bukan lagi sekadar tanaman perkebunan biasa, melainkan simbol perubahan nasib.

Kepala Desa Pekat, Sahlan, menceritakan bagaimana warganya perlahan-lahan beralih haluan dari bertani jagung ke tebu. Keputusan tersebut didasari oleh kalkulasi ekonomi yang sangat rasional: efisiensi biaya jangka panjang.

"Kalau menanam jagung, petani harus mulai dari nol lagi setiap musim—mulai dari biaya olah lahan, beli benih, hingga pupuk awal. Berbeda dengan tebu. Tebu itu cukup sekali tanam di awal, lalu bisa dipanen berkali-kali melalui sistem keprasan (ratoon). Biaya perawatannya jauh lebih rendah, tapi hasilnya sangat menjanjikan," urai Sahlan. Sabtu 27 Juni 2026.

Dampak dari efisiensi ini paling terasa di Dusun Aik Ampat, di mana hampir 99 persen kepala keluarga kini menggantungkan hidupnya sebagai petani tebu. Dusun yang dihuni oleh generasi ketiga imigran asal Pulau Lombok ini telah bertransformasi total. Kerja keras para leluhur mereka yang dulu membuka lahan di tengah keterbatasan, kini terbayar lunas dengan peningkatan taraf hidup yang drastis.

Kejayaan tebu di Pekat tidak hadir begitu saja. Sektor ini ditopang kuat oleh infrastruktur pengairan yang andal dari DAM Ombo Tonda. Ketersediaan air yang stabil sepanjang tahun membuat lahan-lahan di Desa Pekat tetap produktif tanpa takut ancaman kekeringan.

Uniknya, meski tebu menjadi primadona baru, Desa Pekat tidak melupakan jati dirinya. Desa ini tetap memegang predikat sebagai penghasil jagung terbesar di Kecamatan Pekat, di samping memproduksi padi, tembakau, dan sayur-sayuran.

Kini, dengan kantong petani yang semakin tebal, Pemerintah Desa Pekat mulai menatap masa depan yang lebih hijau. Sahlan tengah menggerakkan warganya untuk menanam pohon buah-buahan produktif seperti durian, manggis, dan rambutan di pekarangan dan lahan mereka.

"Kami punya mimpi besar. Jika hari ini orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, beberapa tahun ke depan kami ingin desa ini juga dikenal sebagai sentra buah-buahan unggulan di Dompu," kata Sahlan optimistis.

Kendati ekonomi warga sedang meroket, pemerintah desa masih menyisakan pekerjaan rumah (PR) di sektor infrastruktur logistik.

Menyusutnya anggaran dana desa menjadi tantangan tersendiri. Meskipun tahun lalu pemdes sukses membuka empat ruas jalan usaha tani baru, jalur-jalur tersebut masih membutuhkan pembangunan gorong-gorong dan jembatan kecil agar akses truk tebu semakin lancar.

Untuk mengatasi hal ini, Sahlan berharap adanya penguatan sinergi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), perusahaan gula yang menjadi mitra utama serapan tebu petani setempat. Hubungan kemitraan antara petani, korporasi, dan pemerintah daerah sejauh ini diakui berjalan sangat harmonis.

Kini, "demam" tebu Pekat mulai menular secara masif ke desa-desa tetangga di Kecamatan Pekat. Wilayah seperti Nangamiro, Calabai, Sorinomo, Doropeti, Kadindi Barat, Kadindi Timur, hingga Beringin Jaya mulai berbondong-bondong mereplikasi kesuksesan yang sama. Pergeseran ini secara otomatis mengukuhkan posisi Kecamatan Pekat sebagai episentrum baru industri tebu yang paling progresif di Pulau Sumbawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....