Air Nira Lombok Diusulkan Jadi Minuman Premium untuk Hotel dan Restoran

  • 26 Jun 2026 09:07 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengusulkan pengembangan air nira menjadi minuman premium khas Lombok yang bisa masuk ke pasar hotel dan restoran.
  • Lombok memiliki modal besar untuk mengembangkan produk minuman berbasis air nira karena tradisi penyadapan pohon nira telah lama dilakukan masyarakat.

‎RRI.CO.ID, Lombok Barat – Air nira yang selama ini lebih banyak diolah menjadi gula merah mulai dilirik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai produk bernilai ekonomi tinggi. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengusulkan pengembangan air nira menjadi minuman premium khas Lombok yang bisa masuk ke pasar hotel dan restoran.

‎Gagasan itu disampaikan Iqbal saat mengunjungi Dusun Malaka, Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Kamis, 25 Juni 2026. Wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Desa Berdaya.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat mengunjungi Dusun Malaka, Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Kamis, 25 Juni 2026. (Foto: RRI/Muh.Halwi).

‎Menurut Iqbal, Lombok memiliki modal besar untuk mengembangkan produk minuman berbasis air nira karena tradisi penyadapan pohon nira telah lama dilakukan masyarakat. Potensi itu, kata dia, perlu diolah agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.

‎“Selama ini masyarakat sudah punya budaya menyadap air nira. Tinggal bagaimana sumber daya yang ada ini kita kembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Iqbal.

‎Ia membandingkan nilai ekonomi air nira ketika diolah menjadi gula merah dengan jika dikembangkan sebagai minuman siap konsumsi. Untuk menghasilkan satu kilogram gula merah, dibutuhkan sekitar 10 liter air nira yang harus dimasak hingga delapan jam.

‎Proses panjang tersebut, menurut Iqbal, membutuhkan tenaga dan waktu yang besar, tetapi hasil ekonominya masih terbatas. Dari 10 liter air nira, masyarakat hanya mendapatkan sekitar satu kilogram gula merah dengan nilai jual yang relatif rendah.

‎Sementara jika diolah menjadi minuman premium, 10 liter air nira diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 400 botol minuman berukuran 240 mililiter. Dengan harga jual sekitar Rp10 ribu per botol, nilai ekonominya bisa mencapai sekitar Rp400 ribu.

‎“Kalau menjadi gula merah, 10 liter air nira hanya menghasilkan sekitar Rp50 ribu. Tapi kalau dibuat minuman premium, nilai tambahnya jauh lebih besar,” ujarnya.

‎Iqbal mengatakan pengembangan air nira sebagai minuman khas Lombok juga dapat mendukung sektor pariwisata. Produk tersebut nantinya dapat menjadi pilihan minuman lokal yang disajikan kepada wisatawan di hotel maupun restoran.

‎“Selama ini kita belum punya banyak minuman khas yang bisa menjadi sajian penyambutan di hotel-hotel. Kalau tuak muda atau tuak manis ini dikembangkan, bisa menjadi identitas baru Lombok,” katanya.

‎Untuk menjaga kualitas produk, air nira nantinya akan melalui proses sterilisasi menggunakan teknologi ultraviolet guna menghentikan fermentasi alami. Setelah itu, minuman dikemas dalam botol dengan tampilan premium agar memiliki daya saing di pasar.

‎Gubernur mendorong Dinas perindustrian dan Perdagangan NTB, untuk membantu masyarakat dalam pengembangan produk tersebut. Selain peningkatan kapasitas produksi, pemerintah juga akan melihat aspek ketahanan produk agar dapat dipasarkan lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....