Juri Khat Al-Qur'an MTQ NTB Soroti Kaidah Tulisan, Kunci Lolos ke Tingkat Nasional
- 14 Jun 2026 14:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Cabang Khat Al-Qur’an pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dewan juri menilai mayoritas peserta memiliki potensi dan kualitas yang cukup baik untuk bersaing di tingkat provinsi, bahkan berpeluang menembus level nasional dengan pembinaan yang lebih intensif.
Ketua Majelis VII Cabang Khat Al-Qur’an, Isep Misbach, S.Pd.I., mengatakan hasil evaluasi tim juri menunjukkan sekitar 75 persen peserta mampu menampilkan performa yang memuaskan selama perlombaan berlangsung.
“Secara keseluruhan, kemampuan peserta sudah potensial. Sebagian besar sudah berada di jalur yang benar,” ujar Isep di sela-sela perlombaan, Jumat 12 Juni 2026.
Menurutnya, peserta yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di NTB dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori kemampuan, yakni unggul, menengah, dan pemula. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembinaan kaligrafi Al-Qur’an di daerah.
Meski demikian, Isep menyoroti masih perlunya penguatan pada aspek Kaidah Khatiyah atau kaidah penulisan kaligrafi. Aspek ini menjadi komponen paling penting dalam penilaian karena memiliki bobot hingga 60 persen dari total nilai.
Ia menegaskan bahwa kematangan dalam menerapkan kaidah penulisan menjadi faktor penentu keberhasilan peserta untuk bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
“Kaidah tulisan adalah aspek yang paling krusial. Masih ada pekerjaan rumah (PR) yang perlu dimantapkan agar peserta bisa bersaing di tingkat nasional. Kuncinya ada pada kedisiplinan dan latihan intensif,” jelasnya.
Dalam proses penjurian, dewan hakim tetap mengacu pada tiga mazhab besar kaligrafi dunia, yakni Turki, Mesir, dan Baghdad. Standar tersebut diterapkan pada kategori klasik seperti Naskhi, Sulus, Diwani, Diwani Jali, Rika, Farisi, dan Kufi.
Peserta diperbolehkan mengombinasikan berbagai mazhab tersebut sesuai ketentuan dalam buku panduan lomba. Sementara itu, pada kategori kontemporer, dewan juri mendorong lahirnya inovasi dan kreativitas baru yang dapat menjadi ciri khas daerah.
Peserta ditantang mengembangkan konsep figuratif, seperti bentuk dahan, pohon, maupun lelehan air, tanpa meninggalkan kaidah dasar seni kaligrafi yang berlaku.
MTQ XXXI NTB tahun ini juga menghadirkan pengalaman yang berbeda. Untuk pertama kalinya, cabang Khat Al-Qur’an digelar di kawasan Sirkuit Internasional Mandalika. Para peserta harus menyelesaikan karya kaligrafi selama delapan jam penuh di tengah kondisi lingkungan yang cukup menantang.
Kebisingan suara di sekitar area sirkuit menjadi ujian tersendiri bagi para peserta dalam menjaga fokus dan konsentrasi selama perlombaan berlangsung.
Isep mengapresiasi ketangguhan mental para kaligrafer yang mampu menyelesaikan karya mereka di tengah situasi tersebut.
“Ini pengalaman yang luar biasa dan mungkin tidak biasa, bahkan di skala internasional. Mampu menyelesaikan karya dalam situasi tersebut adalah sebuah prestasi tersendiri,” ujarnya.
Di akhir evaluasinya, Isep berpesan kepada seluruh peserta agar terus meningkatkan kemampuan dan tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang telah diraih.
“Teruslah berlatih, berlatih, dan berlatih. Itulah kunci utama untuk meraih prestasi dan mengukir sejarah di dunia kaligrafi,” ungkapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....