TN Tambora Perkuat Deteksi Dini Karhutla Hadapi Kemarau

  • 26 Apr 2026 02:47 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Balai Taman Nasional (TN) Tambora menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terintegrasi, adaptif terhadap dinamika iklim, serta mampu memberikan perlindungan optimal bagi kawasan konservasi dan masyarakat.

Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry, mengatakan, pengendalian karhutla merupakan prioritas strategis yang harus dilaksanakan secara sistematis dan terintegrasi.

“Komitmen kami memastikan seluruh arahan Direktorat Jenderal KSDAE diimplementasikan secara konkret melalui penguatan sistem deteksi dini, kesiapsiagaan terpadu, dan respon cepat berbasis kolaborasi lintas sektor. Kesiapsiagaan hari ini adalah kunci untuk mencegah bencana di masa depan,” ujarnya, Minggu, 25 April 2026.

Ia menambahkan, penguatan peran masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian, terutama dalam pelaporan cepat dan akurat. Upaya ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas respon di lapangan sekaligus memperkuat sinergi antara petugas dan masyarakat.

Berdasarkan data hingga 20 April 2026, tercatat sebanyak 15 kejadian karhutla di kawasan TN Tambora dengan luas terdampak sekitar 180,61 hektare.

Meski masih relatif terkendali, potensi peningkatan tetap tinggi seiring prediksi musim kemarau yang lebih kering dan berkepanjangan.

Sebagai perbandingan, tren historis menunjukkan, terjadi tren penurunan Karhutlah dari tahun sebelumnya.

Sebagai catatan, kejadian Karhutlah dari tahun 2023 sebanyak 126 kejadian, dengan luas lahan mencapai 6.810,5 hektare.

Di tahun 2024 sebanyak 118 kejadian dengan luas lahan mencapai 16.431,29 hektare. Sementara di tahun 2025 sebanyak 30 kejadian dengan luas lahan seluas 2.891,39 hektare.

Data tersebut menunjukkan adanya tren penurunan, namun tetap memerlukan penguatan strategi pengendalian secara berkelanjutan. Dari hasil analisis lapangan, penyebab dominan kebakaran masih berasal dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, penggembalaan ternak, perburuan ilegal, serta pemanenan madu hutan.

"Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif yang mencakup penegakan hukum, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat," katanya.

Dalam menghadapi musim kemarau 2026, TN Tambora telah melakukan berbagai langkah strategis, termasuk antisipasi potensi fenomena El Niño melalui koordinasi lintas sektor.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui video conference yang digelar Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat bersama sejumlah instansi terkait, seperti BPBD Kabupaten Dompu, Stasiun Meteorologi Sultan Salahuddin Bima, KPH Wilayah VI, Dinas LHK Provinsi NTB, serta Dinas Pertanian.

Hasil pembahasan menunjukkan adanya potensi El Niño kategori lemah hingga moderat yang berisiko meningkatkan kekeringan dan kebakaran hutan.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem deteksi dini, pembentukan posko siaga karhutla, serta peningkatan kesiapsiagaan di wilayah rawan.

Selain itu, apel siaga juga telah dilaksanakan sebagai bentuk konsolidasi kekuatan lintas sektor.

Kegiatan ini bertujuan menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan, meningkatkan kesiapan personel dan sarana prasarana, serta memastikan kesiapan operasional pengendalian karhutla secara terpadu. Di sisi lain, Balai TN Tambora juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia berbasis teknologi.

Kegiatan ini melibatkan Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta personel Balai, dengan materi pelatihan meliputi teknik deteksi dini, pemanfaatan sistem SIPONGI dan SPARTAN untuk monitoring hotspot, teknik pemadaman dini, patroli terpadu, hingga penaksiran luas kebakaran berbasis GPS dan citra satelit.

Melalui berbagai langkah tersebut, TN Tambora optimistis pengendalian karhutla tahun 2026 dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memperkuat perlindungan kawasan konservasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....