Bhayangkari Lombok Utara Dorong Pelaku Wisata Produksi Eco-Enzyme Mandiri
- 25 Apr 2026 22:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Utara - Perayaan Hari Ulang Tahun Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 tahun ini tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Di Gili Trawangan, Lombok Utara, Bhayangkari memilih membawa pesan edukasi lingkungan dengan mengenalkan pemanfaatan Eco-Enzyme sebagai solusi pengolahan sampah organik yang berdampak bagi kesehatan laut, Sabtu 25 April 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan perairan Gili Trawangan dan dipimpin Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo. Bersama jajaran pengurus daerah dan cabang, Bhayangkari tidak hanya melakukan penebaran Eco-Enzyme ke laut, tetapi juga mengajak masyarakat memahami pentingnya pengelolaan limbah organik secara mandiri.
Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, mengatakan bahwa penggunaan Eco-Enzyme merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan wisata.
“Pariwisata tidak bisa dipisahkan dari kondisi alam. Jika laut rusak, maka daya tarik wisata akan ikut menurun. Karena itu, edukasi menjadi langkah yang sama pentingnya dengan aksi langsung di lapangan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 50 liter Eco-Enzyme dituangkan ke perairan sekitar Gili Trawangan. Cairan tersebut dibuat melalui proses fermentasi limbah organik seperti kulit buah, sisa sayuran, air kelapa, dan gula selama 90 hari.
Heny menjelaskan, Eco-Enzyme tidak hanya berfungsi untuk mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan perairan.
“Cairan ini membantu menetralkan zat pencemar alami, mengurangi amonia, serta mendukung keseimbangan mikroorganisme di perairan,” jelasnya.
Menurutnya, konsep pengolahan Eco-Enzyme sangat relevan diterapkan di kawasan wisata seperti Gili Trawangan yang memiliki aktivitas hotel, restoran, dan usaha kuliner dalam jumlah besar.
Sampah organik yang selama ini dibuang dapat diolah kembali menjadi produk ramah lingkungan. Dengan demikian, volume limbah dapat ditekan sekaligus memberi manfaat ekologis.
Bhayangkari Lombok Utara selama ini juga aktif melakukan edukasi kepada sekolah, kelompok masyarakat, hingga pelaku usaha wisata terkait proses pembuatan Eco-Enzyme.
Pembuatan cairan tersebut menggunakan formula sederhana dengan komposisi 10 bagian air, 3 bagian sampah organik, dan 1 bagian gula. Fermentasi dilakukan selama tiga bulan dan memerlukan pengeluaran gas secara berkala agar hasilnya optimal.
“Anak-anak sekolah kami kenalkan sejak dini agar mereka memahami bahwa sampah organik bukan sesuatu yang harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan kembali,” kata Heny.
Ia menilai edukasi lingkungan perlu diperluas hingga ke sektor pariwisata, mengingat kawasan wisata memiliki produksi sampah yang cukup tinggi.
Hotel, restoran, dan pelaku usaha disebut berpotensi menjadi motor penggerak dalam penerapan Eco-Enzyme. Jika dilakukan secara kolektif, dampaknya diyakini dapat membantu menjaga kualitas laut di kawasan wisata.
Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo, menyebut gerakan ini sebagai bentuk kontribusi nyata Bhayangkari dalam mendukung pelestarian lingkungan.
“Kami ingin mendorong budaya pengelolaan sampah yang lebih bijak. Lingkungan yang bersih akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat, khususnya di daerah wisata,” katanya.
Gili Trawangan sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata internasional di Lombok Utara yang mengandalkan kekayaan alam bawah laut sebagai daya tarik utama.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik, Bhayangkari berharap muncul gerakan kolektif yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat keberlanjutan sektor wisata di NTB.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....