Prof Ali Jadid: Candaan Seksis hingga Minim Literasi Jadi Pemicu Kekerasan Seksual
- 25 Apr 2026 09:17 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Maraknya candaan bernuansa seksis di kalangan mahasiswa menjadi salah satu indikator lemahnya kesadaran gender di lingkungan kampus. Fenomena ini dinilai sebagai pintu masuk munculnya perilaku pelecehan seksual, baik secara langsung maupun digital.
Guru Besar UIN Mataram, Prof. Dr. H. Sayyid Ali Jadid Al Idrus, M.Pd., mengungkapkan bahwa faktor lingkungan dan pola konsumsi informasi menjadi penyebab utama. Menurutnya, apa yang dilihat, dibaca, dan ditonton sangat memengaruhi cara berpikir generasi muda.
“Lingkungan yang semakin bebas dan terbuka membuat semua orang terpengaruh oleh apa yang sering mereka akses, tonton, dan baca,” jelasnya,Sabtu 25 April 2025.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya kualitas literasi menjadi persoalan serius. Minat baca yang tidak diimbangi dengan konten berkualitas justru memicu lahirnya pemahaman yang keliru.
Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan kebiasaan interaksi sosial yang semakin dangkal. Kedekatan secara fisik tidak selalu diikuti dengan kedalaman komunikasi secara emosional dan intelektual.
“Tontonan dan bacaan yang tidak sesuai membuat pola pikir ikut terbentuk ke arah yang kurang baik,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai kurangnya ruang diskusi ilmiah di kampus turut memperburuk situasi. Mahasiswa cenderung memahami isu secara parsial tanpa proses edukasi yang memadai.
Padahal, menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang dialog yang sehat untuk membahas isu-isu sosial, termasuk gender dan kekerasan seksual. Aktivitas akademik seperti diskusi perlu kembali digalakkan.
“Proses edukasi itu yang kurang, sehingga banyak yang memahami sesuatu secara sendiri tanpa pendampingan,” kata Prof. Sayyid Ali Jadid.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif dalam menjaga nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak hanya soal intelektual, tetapi juga pembentukan karakter.
Menurutnya, identitas manusia sebagai makhluk beradab harus menjadi dasar dalam setiap interaksi sosial. Hal ini penting untuk mencegah perilaku menyimpang.
“Kita harus menjaga identitas kemanusiaan agar tidak melakukan hal-hal di luar nilai tersebut,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....