Bhayangkari NTB Ajak Warga Gili Trawangan Kelola Sampah Rumah Tangga
- 24 Apr 2026 08:07 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Utara- Bhayangkari Daerah NTB memperkuat gerakan lingkungan berbasis edukasi dengan menyasar kawasan wisata Gili Trawangan sebagai lokasi pengembangan budaya pengelolaan sampah rumah tangga. Melalui pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, organisasi tersebut mendorong perubahan perilaku dalam menangani limbah organik agar tidak lagi berakhir sebagai sampah, tetapi dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan.
Kegiatan yang dipusatkan di Chili House Community, Gili Trawangan, Senin 20 April 2026, menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke-46 dan Hari Kartini ke-147. Dalam kegiatan tersebut, Bhayangkari Daerah NTB mengajak murid-murid beserta orang tua untuk mengikuti praktik langsung pembuatan eco enzyme sebagai solusi sederhana dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga.
Ketua Bhayangkari Daerah NTB Ny. Uty Edy Murbowo mengatakan, gerakan lingkungan tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial maupun pencapaian simbolik. Menurutnya, keberhasilan pembuatan eco enzyme yang sebelumnya sempat mencatatkan rekor MURI harus dilanjutkan dengan perubahan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang paling penting bukan rekornya, tetapi bagaimana gerakan ini benar-benar mengubah kebiasaan masyarakat. Kami ingin eco enzyme menjadi bagian dari pola hidup, dimulai dari rumah tangga," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan Gili Trawangan sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada kondisi kawasan wisata yang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Tingginya aktivitas pariwisata, pertumbuhan usaha, dan mobilitas masyarakat dinilai turut memengaruhi volume limbah yang dihasilkan setiap hari.
Menurutnya, pendekatan berbasis edukasi dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar penanganan akhir sampah. Dengan memberikan pemahaman secara langsung kepada masyarakat, perubahan perilaku diharapkan dapat tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pembuatan eco enzyme menggunakan bahan sederhana seperti limbah buah dan sayuran, gula merah, serta air. Selain memberikan pemahaman teknis, kegiatan juga dirancang untuk menanamkan kesadaran bahwa sampah organik memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan tepat.
Untuk meningkatkan keterlibatan peserta, panitia turut mengadakan lomba edukatif dengan hadiah menarik. Kegiatan ini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak sebagai bagian dari strategi membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Pendiri Chili House Community Noor Ain Hussin, Ph.D., menilai persoalan utama dalam pengelolaan sampah di kawasan wisata bukan hanya terkait sistem, tetapi juga pola pikir masyarakat terhadap limbah.
"Selama ini persoalannya bukan hanya pada sistem, tetapi pada cara pandang. Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sumber daya, maka solusi akan tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri," katanya.
Ia menambahkan, pendekatan edukasi berbasis praktik memberikan pengalaman langsung yang lebih mudah dipahami masyarakat. Dengan keterlibatan aktif peserta, proses belajar dinilai menjadi lebih efektif karena tidak hanya berhenti pada teori.
Sementara itu, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara Ny. Heny Agus Purwanta mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah di tingkat lokal.
"Edukasi ini tidak boleh berhenti di satu kegiatan. Kami akan terus mendorong keterlibatan masyarakat agar praktik ini menjadi kebiasaan sehari-hari," ujarnya.
Sebagai bentuk percepatan adopsi, Bhayangkari Cabang Lombok Utara juga membagikan eco enzyme siap pakai kepada masyarakat sekitar. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung sekaligus memicu ketertarikan warga untuk memproduksi eco enzyme secara mandiri.
Penguatan peran anak-anak sebagai agen perubahan turut menjadi fokus dalam kegiatan ini. Melalui keterlibatan sejak usia dini, kesadaran terhadap lingkungan diharapkan tidak hanya tumbuh pada individu, tetapi juga memengaruhi kebiasaan dalam lingkup keluarga.
Upaya ini dipandang sebagai pendekatan baru dalam penanganan sampah di kawasan wisata, yang tidak lagi hanya berfokus pada pengelolaan akhir, melainkan mendorong perubahan perilaku masyarakat dari tingkat rumah tangga. Dengan keterlibatan komunitas dan edukasi berkelanjutan, pengelolaan sampah di kawasan wisata seperti Gili Trawangan diharapkan dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....