Pendidikan Dasar Jadi Pondasi Membangun Generasi Setara
- 13 Apr 2026 12:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Upaya menanamkan nilai kesetaraan gender sejak usia dini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. Hal ini mengemuka dalam program Beranda Astacita yang mengangkat tema “Membangun Generasi Setara dalam Kurikulum SD”, yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Mataram, Senin 13 April 2026 pukul 10.00–11.00 Wita.
Dialog tersebut menghadirkan narasumber Hj. Fauzah, M.Pd., Kepala Sekolah SDN 1 Meninting. Pada kesempatan itu, ia menekankan bahwa pendidikan kesetaraan gender perlu ditanamkan sejak anak berada di bangku sekolah dasar, sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi masa depan.
Menurut Fauzah, seluruh elemen di lingkungan sekolah memiliki tanggung jawab yang sama dalam menanamkan nilai tersebut, mulai dari guru kelas, tenaga pendidik lainnya, hingga petugas keamanan sekolah.
“Anak-anak SD masih berada pada fase emas, mereka belum banyak terpengaruh oleh hal-hal negatif. Inilah momen penting untuk menanamkan nilai kesetaraan gender agar mereka mampu menghargai sesama, tanpa membedakan jenis kelamin,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam kurikulum terbaru yang mulai diterapkan pada 2025, materi terkait kesetaraan gender telah terintegrasi dalam berbagai pembelajaran. Misalnya, pada materi pengenalan diri, siswa diajarkan untuk memahami identitas diri serta menghargai perbedaan tanpa saling mengejek atau merendahkan.
Selain itu, pada jenjang kelas IV SD, terdapat materi tentang persamaan hak dan kewajiban. Dalam pembelajaran tersebut, siswa diberikan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama, termasuk dalam hal kepemimpinan.
“Sekarang bukan lagi zamannya membedakan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berperan, termasuk menjadi pemimpin,” jelasnya.
Meski demikian, Fauzah menambahkan bahwa dalam praktik keseharian tetap ada pembagian peran yang mempertimbangkan kondisi fisik dan kodrat masing-masing. Contohnya, siswa laki-laki dapat membantu mengangkat meja, sementara siswa perempuan dapat melakukan tugas lain seperti membersihkan kelas.
Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep kesetaraan gender secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tetap menjunjung nilai saling menghargai dan bekerja sama.
Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik, orang tua, dan masyarakat luas dalam mendukung terciptanya generasi yang lebih adil, inklusif, dan berkarakter. (Joe/RRI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....