NTB Dokumentasikan MotoGP Mandalika dalam Diorama Sejarah

  • 10 Apr 2026 12:42 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • MotoGP
  • MotoGP Mandalika
  • Diorama Sejarah

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai merawat ingatan kolektif daerah dengan cara yang lebih sistematis: mengarsipkan penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika. Dokumentasi itu tidak sekadar disimpan, melainkan disiapkan untuk dipamerkan dalam bentuk diorama kearsipan.

Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, pemerintah daerah tengah mengumpulkan, menelusuri, dan mengotentifikasi berbagai arsip yang merekam perjalanan kawasan Mandalika dari wilayah pesisir biasa hingga menjadi panggung ajang balap dunia. MotoGP sendiri pertama kali digelar di Mandalika pada 2022 dan terakhir pada 2025, dengan agenda lanjutan yang direncanakan kembali berlangsung Oktober tahun ini.

Kepala Bidang Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Khalik Saifullah. (Foto: RRI/Diskominfotik NTB).

Kepala Bidang Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Khalik Saifullah, mengatakan proses pengumpulan arsip dilakukan secara komprehensif. “Kami berkolaborasi dengan ITDC, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata untuk memotret perubahan Mandalika, mulai dari kehidupan sosial masyarakat hingga pembangunan sirkuit,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.

Diorama yang disiapkan akan menghadirkan narasi berlapis. Tidak hanya tentang balapan, tetapi juga akar budaya lokal seperti legenda Putri Mandalika, hingga transformasi kawasan yang kini menjadi destinasi internasional. Seluruh materi, terutama foto dan video, tengah melalui proses verifikasi hak cipta sebelum ditampilkan ke publik.

Menurut Saifullah, ruang diorama fisik sudah disiapkan. Nantinya, pengunjung dapat menelusuri jejak Mandalika melalui arsip visual dan naratif, mulai dari fase prapembangunan hingga penyelenggaraan MotoGP dari seri pertama.

Lebih luas, diorama ini juga akan memuat arsip penting lain yang merekam sejarah dan kebudayaan NTB. Konsepnya dibagi dalam empat tema besar, termasuk peristiwa geologi seperti letusan Gunung Samalas, Rinjani, dan Tambora, hingga dinamika NTB masa kini.

Bagi pemerintah daerah, pengarsipan ini bukan sekadar dokumentasi. Ia juga dimaksudkan sebagai sarana edukasi dan mitigasi bencana. “Memori peristiwa bisa memudar dalam 10 hingga 20 tahun. Arsip menjadi penting untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki referensi yang jelas, termasuk terkait bencana alam yang sifatnya berulang,” kata Saifullah.

Selain diorama fisik, arsip-arsip tersebut akan ditampilkan dalam pameran virtual yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia mulai 18 Mei mendatang. Melalui platform digital ini, NTB berharap kisah Mandalika dapat menjangkau audiens global.

“Kami ingin dunia melihat perjalanan otentik Mandalika dan potensi NTB secara utuh,” ujar Saifullah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....