PDAM Tirta Rora Klarifikasi Keluhan Air Berulat dan Berbau di Woja

  • 08 Apr 2026 08:54 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Tirta Rora, Didi Wahyudi, memberikan klarifikasi terkait keluhan warga mengenai kualitas air yang dilaporkan berulat dan berbau menyengat di sejumlah wilayah Kecamatan Woja.

Didi menjelaskan, kondisi tersebut terjadi akibat keterbatasan sumber air baku yang saat ini digunakan.

PDAM, kata dia, terpaksa memanfaatkan sumber air dari Dam Kemudi (Mila) sebagai solusi sementara di tengah kondisi cuaca ekstrem dan banjir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Memang saat ini kita menggunakan air Mila sebagai langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi banjir membuat kita tidak punya banyak pilihan,” ujarnya, dihubungi, Rabu, 8 April 2026.

Ia mengakui, pemanfaatan air dari sumber tersebut belum optimal. Dari kapasitas maksimal sekitar 100 liter per detik, PDAM baru mampu menggunakan sekitar 25 persen.

Hal ini disebabkan keterbatasan bahan kimia pengolahan air seperti tawas dan kaporit.

“Kami sudah ajukan kebutuhan bahan kimia ke pemerintah melalui mekanisme yang ada, dan saat ini sedang dalam proses. Insya Allah dalam waktu dekat sudah tersedia,” katanya.

Didi menambahkan, keterbatasan bahan kimia tersebut berdampak pada kualitas pengolahan air, sehingga di beberapa titik masih ditemukan keluhan seperti bau maupun kondisi air yang kurang layak.

“Keluhan seperti gatal, bau, atau adanya ulat itu tidak terjadi di semua wilayah, hanya di beberapa titik berdasarkan hasil survei kami. Namun ini tetap menjadi perhatian dan sedang kami carikan solusinya,” tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PDAM telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Dinas Kesehatan guna mempercepat pengadaan bahan kimia yang dibutuhkan dalam proses penjernihan air.

Ia juga mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala utama.

Dukungan pemerintah daerah untuk pengadaan bahan kimia saat ini sebesar Rp100 juta dan sedang dalam proses melalui pihak ketiga.

“Secara internal, kondisi keuangan PDAM juga cukup terbatas. Untuk operasional dan gaji karyawan saja masih sangat terbatas,” jelasnya.

Terkait tidak digunakannya kembali sumber air dari Dam Rababaka, Didi menyebutkan bahwa infrastruktur pipa mengalami kerusakan akibat banjir.

“Pipa dari Rababaka putus dan terbawa arus banjir. Untuk perbaikan membutuhkan anggaran sekitar Rp300 juta, dan rencananya akan ditangani oleh pihak BWS,” ungkapnya.

Didi juga menegaskan bahwa air yang disalurkan PDAM saat ini bukan untuk langsung dikonsumsi sebagai air minum, melainkan hanya untuk kebutuhan dasar seperti mandi dan mencuci.

“Air ini adalah air permukaan yang diolah melalui instalasi pengolahan air, jadi memang belum untuk diminum langsung. Kami sudah sosialisasikan itu kepada masyarakat,” katanya.

Distribusi air dari sumber Mila sendiri saat ini difokuskan untuk wilayah Dompu Barat, seperti Desa Nowa, Bakajaya dan sekitarnya. Sementara untuk wilayah Dompu Timur, menurutnya, tidak mengalami kendala serupa.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Sebagai langkah ke depan, PDAM Tirta Rora berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan, terutama dalam menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait kualitas air. Didi memastikan dalam waktu dekat ini akan ada perbaikan, terutama setelah bahan kimia tersedia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....