Pemprov NTB dan IOA Gelar Charity Night 2026

  • 07 Apr 2026 16:07 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Charity Night 2026
  • Pemprov NTB
  • Indonesian Overseas Alumni (IOA)
  • Guru

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menggeser pendekatan pembangunan pendidikan dari pola birokratis ke model kolaboratif. Melalui Charity Night 2026 yang digelar bersama Indonesian Overseas Alumni (IOA), di Auditorium Raodah Bank NTB Syariah itu pemerintah secara terbuka mengakui keterbatasannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan jika berjalan sendiri.

Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal, menempatkan guru sebagai variabel kunci dalam arah pembangunan daerah. Ia menyebut, selama ini beban peningkatan kualitas pendidikan terlalu lama bertumpu pada sistem, bukan pada aktor utamanya.

“Pendidikan adalah kunci kemajuan daerah. Guru adalah ujung tombak yang bekerja melampaui kewajibannya,” kata Iqbal, Senin, 6 April 2026.

Menurut Gubernur, pemerintah tidak cukup kuat bekerja sendiri. Untuk itu, perlu kolaborasi semua pihak termasuk peran guru. “Kolaborasi adalah kunci. Tanpa keterlibatan semua pihak, sulit menghadirkan pendidikan yang merata dan berkualitas,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal perubahan arah kebijakan: dari dominasi negara menuju kemitraan multipihak.

Dalam kesempatan itu, Iqbal menyumbang Rp25 juta dari dana pribadi. Nilainya mungkin tak besar dalam skala anggaran daerah, tetapi simboliknya jelas—bahwa program ini diharapkan bergerak melampaui seremoni.

Pemerintah menyebut inisiatif ini sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kegiatan amal musiman. Targetnya, dalam lima tahun, model kolaborasi ini dapat membentuk ekosistem pendidikan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Meski demikian, tantangan tak kecil. Skema kolaborasi sering kali berhenti di tahap komitmen tanpa implementasi yang konsisten. Selain itu, perlu mekanisme akuntabilitas yang jelas agar keterlibatan dunia usaha tidak berhenti sebagai kontribusi sesaat.

Pemprov NTB menyatakan membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak mana pun untuk terlibat. Ajakan itu sekaligus menjadi ujian: sejauh mana dunia usaha dan komunitas bersedia masuk lebih dalam, bukan hanya sebagai donatur, tetapi sebagai mitra pembangunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....