BMKG Prediksi Kemarau NTB Datang Lebih Cepat dan Lebih Panjang dari Biasanya
- 31 Mar 2026 19:01 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat merilis prediksi terbaru terkait musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer dan laut yang tengah berkembang dan berpotensi memberikan dampak signifikan di berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Anggota Tim Diseminasi dan Informasi BMKG NTB, I Gede Widi Hariarta, mengungkapkan sebagian besar wilayah NTB atau sekitar 84 persen diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Bahkan, sekitar 74 persen Zona Musim (ZOM) akan mengalaminya sejak Dasarian I April.
“Jika dibandingkan dengan rata-rata normal periode 1991-2020, awal musim kemarau tahun ini didominasi kondisi maju yang terjadi di sekitar 70 hingga 73 persen wilayah,” ujar Dedik saat ditemui RRI di Kantor BMKG NTB, Selasa 31 Maret 2026.
Tak hanya datang lebih cepat, tingkat curah hujan selama musim kemarau juga diperkirakan berada di bawah normal. Kondisi ini mencakup sekitar 93 hingga 95 persen wilayah NTB yang akan mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya.
“Artinya, potensi kekeringan akan lebih tinggi karena curah hujan yang jauh lebih sedikit,” katanya menegaskan.
Lebih lanjut, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan akan dirasakan hampir di seluruh wilayah NTB dengan cakupan mencapai 89 hingga 90 persen. Situasi ini dipastikan akan menjadi periode paling krusial dalam menghadapi dampak kekeringan yang meluas.
Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari kondisi normal. Sekitar 89 hingga 93 persen wilayah NTB akan mengalami kemarau dengan durasi antara 25 hingga 27 dasarian atau setara dengan 8 hingga 9 bulan. Kondisi ini menandakan tantangan serius bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
BMKG menjelaskan sejumlah faktor atmosfer menjadi pemicu utama kondisi ini, salah satunya adalah fenomena ENSO yang saat ini berada pada fase netral. Namun, pada semester kedua 2026, kondisi ini berpotensi berkembang menuju El Nino yang identik dengan kekeringan. Selain itu, Monsun Australia yang membawa massa udara kering diprediksi mulai aktif sejak April 2026.
“Suhu muka laut di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan juga cenderung normal hingga dingin, sehingga menghambat pembentukan awan hujan,” ucapnya.
Menghadapi kondisi ini, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi penting kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Di sektor pertanian, petani diimbau untuk menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan hemat air. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga produktivitas di tengah ancaman musim kering berkepanjangan.
Sementara itu, dalam pengelolaan sumber daya air, pemerintah daerah bersama masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam penggunaan air serta mengoptimalkan sistem irigasi. Upaya ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
Selain itu, kewaspadaan dini juga perlu ditingkatkan, terutama dalam mengantisipasi dampak kekeringan terhadap kesehatan lingkungan, kebersihan, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi pada musim kemarau panjang.
“Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang mungkin timbul,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....