Pendakian Gunung Rinjani Resmi Dibuka 1 April 2026

  • 29 Mar 2026 21:10 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gunung Rinjani
  • Pendakian Gunung Rinjani Resmi Dibuka
  • Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

‎RRI.CO.ID, Mataram - Aktivitas pendakian di Gunung Rinjani resmi dibuka kembali mulai 1 April 2026. Pembukaan itu diumumkan dalam seremoni Rinjani Begawai Festival yang digelar di Teras Udayana, Kota Mataram, Sabtu malam, 28 Maret 2026.

‎Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, secara simbolis membuka musim pendakian tahun ini. “Rinjani Begawai Festival ke-6 tahun 2026 dan pembukaan jalur pendakian Rinjani tahun 2026, kita nyatakan dibuka,” ujarnya.

‎Aulia menegaskan, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) membuka pendakian ini bukan sekadar menghidupkan kembali aktivitas wisata alam, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kesadaran konservasi. Kawasan Rinjani disebut sebagai salah satu lanskap unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Sasak.

‎Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan (kanan) bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Ekraf NTB, Ahmad Nur Aulia (tengah) usai membuka pendakian gunung Rinjani dalam acara Festival Rinjani Begawe di Teras Udayana, Kota Mataram, Sabtu malam, 28 Maret 2026. (Foto: RRI/Muh.Halwi)

‎Menurut Aulia, pengembangan kawasan Rinjani ke depan tidak hanya bertumpu pada panorama alam, melainkan juga narasi budaya dan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. “Kekuatan Rinjani bukan hanya pada lanskapnya, tetapi juga pada cerita dan nilai yang hidup di dalamnya,” katanya.

‎Dalam kerangka geopark, pemerintah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekologi, sosial, dan ekonomi. Ia menegaskan pembangunan pariwisata tidak boleh mengorbankan lingkungan dan budaya demi pertumbuhan jangka pendek.

‎Pemerintah Provinsi NTB, kata Aulia, mendorong pendekatan pariwisata berbasis kualitas. Model ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman otentik bagi wisatawan sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

‎Selain itu, pemerintah juga memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan kawasan Rinjani. Peran pemerintah ditempatkan sebagai orkestrator yang mengintegrasikan berbagai inisiatif dari pemerintah, swasta, komunitas, hingga mitra pembangunan.

‎Pendekatan pembangunan berbasis desa turut menjadi fokus. Program desa berdaya diarahkan untuk menggali potensi lokal di sekitar kawasan Rinjani agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam industri pariwisata.

‎Pemerintah juga tengah merumuskan master plan pengembangan geopark Rinjani secara menyeluruh. Rencana ini mencakup aspek fisik dan sosial agar setiap intervensi pembangunan lebih terarah dan berkelanjutan.

‎Di sisi lain, tantangan seperti perubahan iklim, tekanan investasi, dan dinamika sosial menjadi perhatian serius. Pemerintah menilai diperlukan kebijakan yang bijak agar pengembangan kawasan tetap berpihak pada kelestarian.

‎Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan menjelaskan, pembukaan pendakian tahun ini juga ditandai dengan peluncuran program “Rinjani 7.0”. Inisiatif ini digadang sebagai langkah transformasi menuju tata kelola pariwisata yang lebih inovatif dan berstandar global.

‎Tujuh program penataan pendakian difokuskan pada aspek keselamatan, pengawasan, dan keberlanjutan lingkungan dan ekologis di Rinjani. "Tentu ini juga sebagai penguatan sistem monitoring pendakian, sekaligus mengantisipasi zore accident di jalur pendakian," jelas Budhy.

‎Sejumlah agenda turut diperkenalkan, mulai dari kalender event kawasan Rinjani hingga peluncuran lagu resmi BTNGR. Program-program tersebut diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya dan komunitas sepanjang tahun.

‎Dengan pembukaan ini, pemerintah optimistis Gunung Rinjani dapat menjadi model pengembangan pariwisata berkelas dunia yang tetap berakar pada nilai lokal dan prinsip konservasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....