Rukyatul Hilal di POB Teniga Terkendala Hujan, Posisi Hilal Belum Penuhi Kriteria
- 19 Mar 2026 17:17 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Utara — Upaya pemantauan rukyatul hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 Hijriah di Pusat Observasi Bulan Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, menghadapi kendala serius akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat, Kamis sore, 19 Maret 2026.
Sejak pukul 17.00 WITA, tim rukyatul hilal yang terdiri dari Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram telah bersiaga di lokasi dengan menyiapkan berbagai peralatan observasi. Teleskop dan alat bantu pemantauan lainnya diarahkan ke ufuk barat, titik krusial untuk melihat kemunculan hilal.
Namun, proses pengamatan tidak berjalan optimal. Hujan ringan hingga sedang yang mengguyur wilayah Teniga sejak sore, disertai langit yang tertutup awan tebal, menjadi hambatan utama. Kondisi ini menyebabkan visibilitas hilal sangat terbatas, bahkan nyaris tidak memungkinkan untuk dilakukan pengamatan visual secara langsung.
Pengamat geofisika dan meteorologi BMKG Mataram, Abelea Aminudin, menyampaikan bahwa tim tetap berupaya melakukan pemantauan maksimal meskipun kondisi cuaca tidak mendukung. Menurutnya, hujan dan lapisan awan yang menutupi cakrawala barat menjadi kendala terbesar dalam proses rukyatul hilal kali ini.
“Secara teknis kami sudah siap, tetapi faktor cuaca sangat menentukan. Awan tebal dan hujan membuat pengamatan visual tidak bisa dilakukan secara optimal,” ujarnya di lokasi.
Berdasarkan data yang diperoleh, ketinggian hilal berada di kisaran 1,5 derajat, dengan elongasi sekitar 5,3 derajat.
Angka tersebut masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6 derajat agar hilal dapat dinyatakan terlihat.
"Dengan demikian, baik dari sisi perhitungan maupun kondisi lapangan, hilal di wilayah Lombok Utara pada hari ini belum memenuhi syarat untuk dapat diamati," jelasnya.
Kondisi ini menegaskan bahwa penentuan awal bulan Syawal tidak dapat bergantung pada satu titik pengamatan saja. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia melakukan rukyatul hilal di berbagai lokasi di seluruh Indonesia guna memperoleh data yang lebih komprehensif.
Hasil dari seluruh titik pemantauan tersebut akan menjadi bahan dalam sidang isbat yang digelar di tingkat pusat. Sidang ini akan menentukan secara resmi kapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah dirayakan oleh umat Islam di Indonesia.
Meski hasil pengamatan tidak sesuai harapan, proses rukyatul hilal tetap berlangsung sesuai prosedur dan menjadi bagian penting dalam penentuan kalender hijriah.
Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan 1 Syawal yang akan disampaikan setelah sidang isbat selesai dilaksanakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....