Pengemis dan Pengamen Meningkat saat Ramadan, Prof. Masnun Soroti Akar Masalahnya

  • 11 Mar 2026 16:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Fenomena meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen menjelang Ramadan hingga Lebaran kembali menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah. Aktivitas tersebut kerap terlihat di persimpangan jalan, pusat keramaian, hingga kawasan perbelanjaan. Kondisi ini dinilai tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga mencerminkan persoalan sosial yang lebih kompleks.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., menilai keberadaan pengemis dan pengamen merupakan persoalan sosial yang telah berlangsung lama. Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan, keterbatasan lapangan pekerjaan, hingga pola ketergantungan sosial yang terbentuk di masyarakat.

“Fenomena pengamen dan pengemis ini sebenarnya masalah sosial yang cukup akut. Bukan hanya muncul pada momen tertentu seperti Ramadan, tetapi juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya, Rabu 11 Maret 2026.

Menurut Prof. Masnun, menjelang Ramadan dan Lebaran jumlah pengemis cenderung meningkat karena adanya faktor kedermawanan masyarakat. Pada bulan tersebut, masyarakat lebih terdorong untuk berbagi sehingga ruang bagi aktivitas mengemis menjadi lebih terbuka.

“Kedermawanan masyarakat pada bulan puasa memang meningkat. Kondisi ini seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk meminta-minta di ruang publik,” katanya.

Ia menilai pola pemberian uang secara langsung di jalan justru dapat memperpanjang budaya mengemis. Praktik tersebut dinilai berpotensi menimbulkan ketergantungan dan tidak memberikan solusi jangka panjang bagi para pelakunya.

“Kita tetap harus peduli, tetapi kepedulian itu sebaiknya bersifat edukatif. Memberikan uang secara langsung di jalan justru bisa melanggengkan budaya mengemis,” jelas Prof. Masnun.

Ia mengimbau masyarakat agar menyalurkan bantuan melalui lembaga sosial resmi sehingga bantuan dapat dikelola secara lebih terarah dan tepat sasaran.

“Bantuan sebaiknya disalurkan melalui lembaga sosial, panti asuhan, atau lembaga filantropi yang resmi. Dengan begitu bantuan dapat dimanfaatkan secara lebih produktif,” ujarnya.

Selain berdampak pada aspek sosial, aktivitas mengemis di jalan juga dinilai berpotensi mengganggu ketertiban umum. Kehadiran pengemis dan pengamen di persimpangan jalan kerap menimbulkan kemacetan serta membahayakan keselamatan mereka sendiri.

Prof. Masnun juga menyoroti aspek kesehatan, terutama ketika anak-anak turut dilibatkan dalam aktivitas mengemis. Menurutnya kondisi tersebut dapat berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak.

“Anak-anak yang dibawa untuk mengemis tentu menghadapi risiko kesehatan dan keselamatan. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.

Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam menangani persoalan tersebut. Pemerintah dinilai perlu melakukan pendataan dan pemetaan yang jelas terhadap kelompok masyarakat yang terlibat dalam aktivitas mengemis.

“Pendataan itu penting untuk mengetahui apakah mereka benar-benar berada dalam kondisi membutuhkan atau ada faktor lain di baliknya,” ujar Prof. Masnun.

Menurutnya penanganan masalah ini tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan, hingga perguruan tinggi.

“Ini bukan tugas satu instansi saja. Pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat harus bersama-sama memikirkan solusi bagi mereka,” tuturnya.

Ia berharap pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat penertiban, tetapi juga pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan dan dukungan usaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....