BBPOM di Mataram Intensfikan Pengawasan Selama Ramadan
- 05 Mar 2026 14:44 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram mengintensifkan pengawasan makanan selama Ramadan untuk mencegah penggunaan bahan berbahaya pada produk yang dijual masyarakat, terutama takjil. Pengawasan difokuskan pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjual makanan siap saji di berbagai daerah.
Kepala BBPOM Mataram, Yogi Abaso, mengatakan pengawasan telah dimulai sejak awal Ramadan melalui pemeriksaan sarana produksi dan pengambilan sampel makanan untuk investigasi keamanan pangan. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, jumlah temuan produk yang terkontaminasi bahan berbahaya tergolong kecil.
“Secara umum temuan produk yang mengandung bahan berbahaya relatif sedikit,” kata Yogi kepada RRI, Kamis, 5 Maret 2026.
Namun demikian, dari pengambilan sampel di kawasan Pagutan, Kota Mataram, petugas masih menemukan makanan yang mengandung boraks. Dari sekitar 72 sampel yang diperiksa, dua di antaranya positif mengandung bahan berbahaya tersebut.
Yogi menjelaskan dua produk yang terindikasi mengandung boraks itu adalah mie basah dan kerupuk terigu. Saat ini BBPOM masih menelusuri sumber produksi makanan tersebut untuk memastikan asal bahan berbahaya yang digunakan.
Pengawasan, kata dia, akan terus dilakukan hingga menjelang Idulfitri. Setelah melakukan pengawasan pada pekan pertama Ramadan di Kota Mataram, tim BBPOM kini bergerak ke wilayah Lombok Timur dan Lombok Barat sebelum kembali melakukan pemeriksaan di Mataram menjelang akhir Ramadan.
Selain melakukan pengawasan, BBPOM juga mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli makanan. Konsumen dapat mengenali ciri-ciri makanan yang diduga mengandung bahan berbahaya melalui beberapa tanda sederhana.
Salah satu contohnya adalah kerupuk terigu yang tetap renyah meski sudah dibuka selama dua hari. Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi penggunaan boraks. “Biasanya juga ada sensasi pahit setelah dimakan,” ujarnya.
Ciri lain dapat dilihat pada mie basah yang tetap awet hingga dua hari meski tidak disimpan di lemari pendingin. Mie dengan kondisi seperti itu patut diwaspadai karena bisa saja mengandung bahan pengawet berbahaya.
Yogi menambahkan masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi pangan segar seperti ikan. Jika tidak ditemukan lalat yang mendekat pada ikan yang dijual di pasar, kondisi tersebut juga bisa menjadi indikasi adanya penggunaan bahan kimia tertentu.
Menurut dia, tren penggunaan bahan berbahaya dalam pangan di NTB sebenarnya menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun konsumen tetap memegang peran penting sebagai pengawas terakhir dalam memastikan keamanan pangan yang dikonsumsi.
BBPOM pun mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip cek kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli produk pangan olahan. Selain itu, masyarakat juga diminta menghindari makanan dengan warna yang terlalu mencolok atau tampak tidak wajar.
“Jangan hanya tergoda harga murah. Perhatikan juga kondisi fisik makanan sebelum membeli agar terhindar dari bahan berbahaya,” kata Yogi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....