Perang Timur tengah Memanas, Okupansi Hotel Senggigi Masih Aman

  • 02 Mar 2026 17:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan dampak langsung terhadap sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat, khususnya kawasan wisata Senggigi. Pelaku usaha pariwisata menilai kondisi kunjungan wisatawan masih relatif stabil meski tensi global meningkat.

Pelaku Pariwisata Sekaligus General Manager Aruna Senggigi, Yeyen Heryawan, mengatakan konflik tersebut belum memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap arus wisatawan ke NTB, khususnya Senggigi di Lombok Barat. Menurutnya, struktur pasar pariwisata Senggigi saat ini masih ditopang oleh wisatawan domestik serta pasar Australia, Eropa, dan Asia Tenggara.

“Kalau dampak langsung ke kunjungan, sejauh ini belum terlihat signifikan karena market utama kami masih domestik dan short–medium haul,” ujar Yeyen saat dikonfirmasi RRI, Senin, 2 Maret 2026.

Meski demikian, Yeyen mengakui konflik global berpotensi memicu efek tidak langsung, terutama pada sentimen ekonomi dunia, lonjakan harga energi, hingga biaya penerbangan internasional. Ia menyebut, apabila eskalasi konflik berlanjut dan memicu kenaikan harga avtur atau perubahan rute penerbangan jarak jauh, maka pasar long haul bisa terdampak.

“Kalau sampai banyak penerbangan internasional harus re-route seperti yang sempat terjadi, itu pasti berpengaruh, terutama untuk market penerbangan jarak jauh,” katanya.

Hingga kini, kata Yeyen, belum terlihat adanya pembatalan reservasi secara masif. Namun ia mencatat adanya kecenderungan sebagian wisatawan mancanegara menunda keputusan pemesanan dan memilih bersikap wait and see. Hal serupa juga dilakukan oleh agen perjalanan luar negeri yang lebih berhati-hati menjual paket long stay.

“Yang terlihat sekarang, tamu internasional masih menunda booking, sementara pasar domestik relatif stabil dan menjadi penopang utama okupansi Senggigi,” ucapnya.

Mengantisipasi dinamika global tersebut, pelaku usaha pariwisata di Senggigi telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah melakukan diversifikasi pasar agar tidak bergantung pada satu atau dua negara sumber wisatawan. Fokus juga diarahkan pada penguatan pasar domestik dan short haul seperti Bali sebagai extension, Surabaya, Jakarta, serta kawasan regional seperti Singapura dan Malaysia.

Selain itu, penguatan pemasaran digital dan optimalisasi online travel agent (OTA) terus dilakukan untuk menjaga visibilitas global. Segmen MICE lokal, komunitas, dan pemerintahan juga menjadi target utama, seiring pengembangan event berbasis pengalaman seperti wisata kuliner, beach event, paket Ramadan, hingga paket Lebaran.

“Strategi kami bukan sekadar menurunkan harga, tapi menciptakan paket bernilai tambah seperti bundling kamar dengan makan, aktivitas hotel, atau experience berbuka puasa. Saat demand tinggi, harga tetap bisa dinaikkan secara wajar,” katanya.

Yeyen menambahkan, pengelolaan biaya dilakukan secara disiplin tanpa mengorbankan kualitas layanan. Untuk menjaga okupansi akhir pekan, berbagai event lokal juga disiapkan dengan menggandeng pelaku komunitas dan agen perjalanan lokal.

Di sisi lain, koordinasi dengan Dinas Pariwisata NTB dan Lombok Barat serta asosiasi industri terus diperkuat. Ia menegaskan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci menjaga ketahanan pariwisata di tengah ketidakpastian global.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan asosiasi seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia NTB. Kolaborasi ini sangat penting agar industri tetap adaptif dan berdaya saing,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....