SMKN 1 Gerung Hidupkan Regenerasi Nyeseq lewat Ekstrakurikuler Inovatif
- 28 Feb 2026 14:28 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Keprihatinan atas semakin menua-nya para perajin nyesek atau menenun di Kabupaten Lombok Barat menjadi titik tolak lahirnya sebuah langkah nyata dari dunia pendidikan. Regenerasi pengrajin yang nyaris terputus mendorong SMKN 1 Gerung menghadirkan ekstrakurikuler nyeseq atau menenun sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus membekali siswa dengan keterampilan bernilai ekonomi.
Program ekstrakurikuler nyeseq atau menenun ini mulai diterapkan sejak Januari 2026 dan menjadi yang pertama kali hadir di Lombok Barat. Kegiatan tersebut diwajibkan bagi siswa jurusan Desain Produksi Busana (DPB) serta dibuka untuk seluruh jurusan lainnya sebagai pilihan pengembangan minat dan bakat.
Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara, mengungkapkan gagasan ini berangkat dari rasa tanggung jawab moral lembaga pendidikan terhadap keberlangsungan budaya daerah.
“Berangkat dari keprihatinan karena perajin nyesek atau tenun kita rata-rata sudah berusia lanjut, maka muncul inspirasi untuk ikut berpartisipasi melestarikan budaya, terutama kerajinan menenun,” ujar Erni saat ditemui RRI di sekolahnya, Gerung, Lombok Barat, Sabtu, 28 Februari 2026.
Menurutnya, nyesek atau tenun bukan sekadar produk kain, melainkan rekaman nilai luhur dan identitas masyarakat Lombok Barat yang harus dikenalkan sejak dini kepada generasi muda.
“Ada nilai-nilai budaya yang terekam dalam setiap helai kain tenun. Inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak,” katanya.
Selain fungsi pelestarian budaya, ekskul menenun ini juga dirancang untuk menopang kegiatan produksi busana di sekolah, khususnya pada kompetensi keahlian Tata Busana.
“Ekskul ini kami kembangkan untuk mendukung produksi busana di sekolah, sekaligus memperkenalkan proses menenun secara langsung kepada siswa,” ucapnya.
Kegiatan ekstrakurikuler nyesek atau menenun dilaksanakan setelah jam pelajaran reguler, yakni pukul 14.00 hingga 16.00 WITA. Meski terbuka bagi semua jurusan, pihak sekolah memprioritaskan siswa Tata Busana agar memahami proses hulu hingga hilir dalam dunia fashion berbasis kearifan lokal.
Menariknya, minat siswa terbilang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa anggapan menenun sebagai aktivitas membosankan bagi generasi muda perlahan mulai terpatahkan.
“Alhamdulillah peminatnya dari semua jurusan. Mudah-mudahan ke depan anak-anak punya tambahan skill yang berbeda dari kompetensi utama mereka,” ujarnya.
Tak hanya bernilai budaya, kain tenun juga memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama bagi pasar wisatawan domestik dan mancanegara. Potensi ini menjadi peluang besar bagi siswa untuk memiliki bekal keterampilan produktif setelah lulus.
Namun, sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana. Saat ini, SMKN 1 Gerung baru memiliki lima unit alat nyesek atau menenun yang diperoleh dengan dukungan komite sekolah.
“Kemampuan sekolah sangat terbatas. Kami berharap ke depan ada dukungan dari Dekranasda Kabupaten Lombok Barat maupun Provinsi NTB untuk penambahan alat nyesek atau menenun yang lebih besar dan lebih banyak,” tuturnya.
Pihak sekolah optimistis, dengan dukungan berbagai pihak, ekskul nyesek atau menenun ini dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran sekaligus produksi kain tenun yang mampu mengangkat potensi lokal Lombok Barat ke tingkat yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....