Serapan Jagung Bulog Bima Mulai Bergerak, Harga Masih di Bawah HPP

  • 23 Feb 2026 10:22 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Serapan jagung oleh Perum Bulog Cabang Bima mulai berjalan meski panen raya belum sepenuhnya berlangsung. Sejumlah petani di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, sudah lebih dulu memanen jagung mereka, khususnya yang melakukan penanaman pada Oktober–November 2025 lalu.

Salah seorang petani jagung di Kecamatan Woja, Ahmad Rifai, mengatakan sebagian petani memang telah melakukan panen lebih awal karena masa tanamnya lebih cepat dibanding petani lainnya.

“Yang tanam bulan Oktober dan November sudah mulai panen sekarang, walaupun belum panen raya,” katanya, Senin 23 Februari 2026.

Di tingkat petani, harga jagung pipilan basah atau yang belum dikeringkan saat ini berada di kisaran Rp3.500 per kilogram.

Sementara untuk jagung pipilan kering dihargai Rp5.500 hingga Rp5.600 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp5.700 per kilogram.

Selisih harga antara jagung basah dan jagung kering yang cukup besar membuat sebagian petani memilih menunda penjualan hingga jagung benar-benar kering dan memenuhi kadar air yang disyaratkan dalam Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Namun demikian, meski sudah dikeringkan secara maksimal, harga jual di tingkat petani masih berada di bawah HPP yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.400 per kilogram.

Sementara itu, Bulog tetap melakukan penyerapan jagung seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, mekanisme saat ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama Kepolisian Resor Dompu guna memastikan proses penyerapan berjalan sesuai ketentuan.

Selain memperhatikan kadar air maksimal 14 persen, Bulog juga menerapkan standar kualitas yang lebih ketat. Jagung yang diserap tidak boleh mengandung Aflatoksin melebihi 50 part per billion (ppb). Kandungan tersebut menjadi salah satu komponen utama yang diuji sebelum jagung diterima.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga mutu jagung yang diserap sekaligus melindungi petani agar mendapatkan kepastian pasar. Meski demikian, petani berharap harga di tingkat lapangan bisa mendekati atau sesuai dengan HPP, sehingga biaya produksi yang telah dikeluarkan dapat tertutupi secara layak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....