TPS Kebon Talo Cemari Jalur Kota dan Pariwisata Senggigi

  • 21 Feb 2026 17:29 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Kebon Talo di Jalan Saleh Sungkar, Ampenan, Kota Mataram, kembali menuai keluhan serius dari masyarakat dan pelaku pariwisata. Lokasi TPS tersebut berada tepat di jalur utama menuju kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, yang merupakan satu-satunya akses darat bagi wisatawan.

Tumpukan sampah yang menggunung tidak hanya merusak estetika kawasan, tetapi juga menebarkan aroma menyengat yang langsung tercium hingga ke badan jalan. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan, terutama tamu wisata yang melintas menuju destinasi unggulan Nusa Tenggara Barat.

Sejumlah pengendara menyebut pemandangan tersebut kontras dengan citra kawasan wisata. Jalan yang seharusnya menjadi etalase pariwisata justru menampilkan wajah kumuh saat pertama kali dilalui wisatawan dari arah Kota Mataram.

Pengguna jalan, Jumahir mengatakan Jalan ini bukan sekadar jalur alternatif, melainkan akses satu-satunya yang dilalui wisatawan menuju kawasan Senggigi. Namun, pemandangan gunungan sampah yang mengular di tepi jalan, disertai aroma menyengat yang langsung tercium saat melintas, dinilai mencoreng citra pariwisata daerah.

“Setiap orang yang lewat pasti melihat dan mencium baunya. Ini jelas mengganggu kenyamanan,” ujarnya Jumahir salah seorang pengguna jalan saat ditemui RRI dilokasi, Jumat, 20 Februari 2026.

Sementara itu, Keluhan keras juga datang dari pelaku industri pariwisata. General Manager Merumatta sekaligus pelaku pariwisata Senggigi, Fahrurrozi, menilai persoalan sampah ini sudah menyentuh citra daerah.

“Sampah ini juga jadi problem, karena ini menyangkut wajah Senggigi,” ujarnya.

Ia menegaskan kondisi TPS yang terbuka membuat tumpukan sampah terlihat jelas dari berbagai arah, sehingga menciptakan kesan buruk bagi wisatawan.

“Tidak elok kalau kita lihat di situ. Kalau saran saya, mungkin bisa dibuat lebih dalam atau setidaknya ditutup, supaya tidak terlihat dari luar,” katanya.

Fahrurrozi menggambarkan saat melintas, gunungan sampah tampak mencolok baik dari sisi kiri maupun kanan jalan.

“Sekarang kalau kita mau lewat dari kiri atau kanan, kita nengok itu sudah seperti gunungan,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat ironis karena jalur itu merupakan satu-satunya akses menuju kawasan wisata Senggigi.

“Ini kan destinasi Senggigi, dan jalurnya hanya lewat sana saja, tidak ada jalan alternatif lain,” tutupnya.

Pelaku pariwisata berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, mulai dari penataan ulang TPS hingga relokasi atau penutupan visual, agar citra pariwisata Senggigi tidak terus tercoreng oleh persoalan sampah yang berlarut-larut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....