Dosen Universitas Bumigora Ingatkan Bahaya Ditinggalkannya Bahasa Sasak
- 20 Feb 2026 21:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Kekhawatiran terhadap semakin terpinggirkannya bahasa ibu di kalangan generasi muda mendorong kalangan akademisi turun tangan. Menyikapi hal itu, Dr. Abdul Muhid, dosen Program Studi S2 Sastra Inggris Universitas Bumigora menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Desa Darek, Lombok Tengah, Sabtu, 14 Februari 2026.
FGD digelar di tingkat desa guna membicarakan nasib Bahasa Sasak di tengah derasnya arus digitalisasi. Abdul Muhid, merupakan penerima hibah skema Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Cagar Budaya (KOPK-CB) dengan program bertajuk “Revitalisasi Bahasa Sasak di Era Digital: Dokumentasi Kosakata Tradisional dan Kampanye Media Sosial untuk Penguatan Identitas Lokal Lombok.”
Diskusi itu menghadirkan berbagai unsur masyarakat seperti perwakilan pemerintah desa, kepala dusun, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Keterlibatan mereka mencerminkan upaya kolektif antara akademisi dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Dalam FGD itu, para peserta sepakat bahwa sejumlah kosakata Sasak kian jarang terdengar. Sebagian hilang karena perubahan pola hidup, sebagian lain tergeser oleh dominasi bahasa Indonesia maupun bahasa asing dalam ruang publik dan media sosial.
Abdul Muhid menyinggung fenomena tersebut melalui sesenggak atau pepatah Sasak, “Deman ngere peredah batek dengan ketimbang batek dirikn.” Ungkapan itu berarti lebih senang menggunakan bahasa orang lain ketimbang bahasa sendiri.
“Ini bukan soal menolak bahasa asing. Kita tentu perlu menguasainya. Tapi ada soal kebanggaan dan identitas yang tidak boleh tergerus,” kata Abdul Muhid melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 20 Februari 2026.
Menurutnya, revitalisasi bahasa tak cukup berhenti pada nostalgia. Karena itu, program yang digagasnya mencakup dokumentasi kosakata tradisional yang mulai jarang dipakai. Kosakata tersebut akan dihimpun, dideskripsikan, lalu dipublikasikan melalui platform media sosial agar menjangkau generasi muda.
Pendekatan digital dipilih karena perubahan medium komunikasi dinilai tak terelakkan. Ia menilai, generasi muda Lombok kini lebih akrab dengan ruang daring dibanding forum tatap muka tradisional.
“Kalau bahasanya ingin hidup, ia harus hadir di ruang yang juga hidup bagi generasi muda,” ujarnya.
| Baca juga: Lombok Utara Potensi Pertanian Kakao Ekspor |
Program ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui skema Dana Indonesiana serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan tersebut, kata Abdul Muhid, menjadi bukti perhatian negara terhadap pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas nasional.
Ia berharap langkah kecil dari Desa Darek dapat menjadi model bagi wilayah lain di Lombok. Bahasa, menurutnya, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan penanda jati diri yang menyimpan cara pandang, nilai, dan sejarah suatu komunitas.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam mendokumentasikan kekayaan linguistik Lombok serta menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap bahasa dan identitas lokalnya di tengah derasnya arus informasi digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....