IBI Lombok Barat Digerakkan Percepat Penurunan Stunting
- 17 Feb 2026 12:17 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Lombok Barat kembali diperkuat lewat kolaborasi lintas sektor. Kali ini, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lombok Barat didorong mengambil peran strategis sebagai ibu asuh bagi balita berisiko stunting agar intervensi berjalan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha, saat membuka Pertemuan Pembekalan dan Monitoring Bidan Ibu Asuh Balita Berisiko Stunting di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Rabu 4 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang terdiri dari pengurus cabang hingga ranting IBI se-Lombok Barat.
Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha menegaskan seluruh bidan harus terlibat aktif dan terukur dalam pendampingan balita berisiko. Ia meminta setiap program memiliki hasil nyata di lapangan, bukan sekadar seremonial.
“Semakin intens kita melakukan pemantauan dan pendampingan, terutama saat anak-anak minum susu, maka semakin besar peluang kita mengeluarkan mereka dari kondisi stunting,” katanya.
Menurutnya, meski intervensi spesifik telah ditangani Dinas Kesehatan, tantangan terbesar justru berada pada intervensi sensitif yang menyentuh persoalan pendidikan, kemiskinan, hingga kondisi sosial masyarakat. Karena itu, konvergensi lintas sektor menjadi kunci, termasuk peran aktif IBI di tingkat desa.
Berdasarkan hasil pantauan lapangan, ia mengungkapkan sebagian besar kasus stunting ditemukan pada keluarga miskin dengan kondisi rumah tidak layak huni serta sanitasi yang buruk. Situasi tersebut menuntut kerja bersama seluruh perangkat daerah agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Dinas Sosial harus masuk lewat bantuan sosial, PUPR-PKP menyelesaikan sanitasi dan rumah tidak layak huni, sementara Dikbud memastikan anak tetap sekolah dan mencegah pernikahan usia dini,” ucapnya.
Ia menambahkan, pencegahan pernikahan anak menjadi faktor krusial dalam menekan angka kelahiran bayi berisiko stunting. “Jika pernikahan usia dini bisa ditekan, maka risiko stunting dapat dicegah sejak awal,” katanya.
Untuk teknis pendampingan, satu ibu asuh direncanakan mendampingi beberapa desa berdasarkan data lokus stunting berbasis posyandu. Pola ini dinilai lebih efektif karena pemantauan menjadi fokus dan berkelanjutan.
“Kita tidak lagi hanya rapat-rapat, tetapi langsung berbagi tugas di lapangan. Saya yakin bidan sangat memahami persoalan kehamilan berisiko hingga pencegahan kematian ibu. Peran IBI sangat besar dalam menurunkan stunting di Lombok Barat,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....