Transformasi Digital Perluas Jangkauan Museum NTB

  • 08 Feb 2026 14:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Museum NTB memperkuat strategi transformasi digital sebagai bagian dari rencana pengembangan kelembagaan. Kebijakan ini ditempuh untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada platform digital.

Optimalisasi media sosial, media daring, dan siaran radio dinilai menjadi instrumen penting dalam memperluas akses publik terhadap informasi kebudayaan. Strategi tersebut juga diarahkan untuk membangun citra museum sebagai ruang edukasi yang terbuka.

“Promosi museum harus meliputi semua platform. Rencana strategis kami adalah museum digital, artinya kami menyapa masyarakat melalui media sosial, media massa, media online, termasuk radio,” jelas Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, Minggu, 8 Februari 2026.

Menurut Nuralam, pendekatan digital telah menjadi bagian dari rencana strategis institusi. Ia menilai museum tidak lagi bisa mengandalkan pola promosi konvensional semata.

Ia menekankan bahwa kehadiran museum di berbagai kanal komunikasi membuka peluang interaksi yang lebih luas. Transformasi ini, katanya, menjadi langkah adaptif agar museum tetap relevan di tengah arus modernisasi.

“Kami ingin museum hadir di ruang-ruang yang dekat dengan masyarakat, termasuk ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan bahwa dampak strategi tersebut terlihat dari peningkatan jumlah kunjungan sepanjang 2025. Data internal museum mencatat sekitar 44 ribu pengunjung dalam kurun satu tahun.

Capaian itu, menurutnya, mencerminkan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap museum. Ia memandang konsistensi promosi lintas platform berkontribusi terhadap tren positif tersebut.

“Selama setahun kunjungan langsung sekitar 44 ribu. Itu menunjukkan masyarakat semakin terbuka terhadap museum,” paparnya.

Lebih jauh, ia menilai museum harus diposisikan sebagai ruang transfer pengetahuan antar generasi. Fungsi edukatif perlu diperkuat agar kebudayaan tetap kontekstual dan mudah dipahami.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai pergeseran dari pola komunikasi lama menuju model yang lebih rasional. Museum, katanya, harus mampu menjembatani nilai sejarah dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Kami ingin museum menjadi tempat belajar dan ruang transformasi nilai dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ke depan, penguatan riset kebudayaan akan menjadi bagian integral dari strategi digital tersebut. Hasil penelitian direncanakan dipublikasikan agar dapat diakses masyarakat luas.

Ia optimistis, konsistensi pengembangan digital akan memperkuat posisi Museum NTB di tingkat regional maupun nasional. Strategi ini diyakini menjadi fondasi penguatan peran edukatif sekaligus rekreatif museum.

Penguatan komunikasi berbasis digital tersebut dipandang sebagai langkah jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan fungsi museum di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....