Film Pendek Bau Nyale Hadirkan Tafsir Baru Legenda Mandalika
- 07 Feb 2026 18:19 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Film pendek tentang Bau Nyale yang diputar dalam rangkaian Festival Bau Nyale 2026 di Kuta Mandalika, Lombok Tengah, menawarkan pembacaan baru atas legenda Putri Mandalika. Karya ini dinilai memperkaya narasi budaya sekaligus memperkuat storytelling pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mengapresiasi film tersebut karena tidak sekadar mengulang mitos yang selama ini dikenal masyarakat. Menurutnya, film ini membuka pemahaman yang lebih luas tentang makna di balik legenda Bau Nyale.

“Selama ini yang saya tahu hanya sekilas seperti mitos-mitos itu, bahwa Putri Mandalika melompat dan bertransformasi menjadi nyale. Dari film ini, banyak pembelajaran yang saya dapatkan,” kata Sinta, Jumat malam, 6 Februari 2026.
Sinta menilai film pendek ini mampu menghadirkan perspektif baru terhadap sejarah dan budaya lokal, sekaligus mengajak penonton berdialog tentang nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam legenda Bau Nyale. Ia berharap pendekatan kreatif seperti ini dapat terus dikembangkan untuk memperkuat identitas budaya NTB.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, juga menyampaikan apresiasi kepada para sineas muda dan budayawan yang terlibat dalam produksi film tersebut. Menurutnya, film ini memperdalam pemahaman generasi sekarang terhadap peristiwa dan nilai-nilai masa lalu.
“Dengan adanya film ini, pengetahuan dan wawasan kita menjadi lebih mendalam tentang apa yang terjadi di masa terdahulu, yang telah memberikan banyak kebajikan. Cerita-cerita baik ini bisa menjadi modal penting bagi generasi penerus,” ujar Aulia.
Ia menambahkan, film pendek Bau Nyale berpotensi menjadi materi storytelling yang kuat dalam promosi pariwisata, khususnya di kawasan Mandalika. Narasi budaya yang disampaikan melalui medium film dinilai mampu menarik minat wisatawan sekaligus memberikan pengalaman yang lebih bermakna.
Salah satu narasumber dalam film tersebut, budayawan Lalu Agus Faturrahman, menjelaskan bahwa legenda Bau Nyale pada dasarnya menggambarkan kecantikan, kebijaksanaan, dan kecerdasan Putri Mandalika. Dalam versi sejarah yang ia pahami, Mandalika tidak menceburkan diri ke laut, melainkan menghilang setelah menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan kepada para pangeran yang meminangnya.
Ia menyebut narasi Mandalika menjelma menjadi nyale diduga merupakan konstruksi sastra modern yang berkembang sejak awal 1980-an, ketika kisah ini mulai diangkat sebagai agenda pariwisata. “Untuk memperkuat aspek dramatik, terutama dalam teater kolosal, kemudian dimunculkan adegan Mandalika menceburkan diri ke laut,” kata Agus.
Melalui film pendek ini, pesan moral tentang kepemimpinan perempuan yang mengedepankan kelembutan, kearifan, dan pengorbanan disampaikan kembali kepada publik. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus diwariskan dan menjadi inspirasi bai generasi muda NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....