RTH Karijawa Tergenang, Atap Menara Nggusu Waru Disorot

  • 03 Jan 2026 10:40 WIB
  •  Mataram

KBRN, Dompu: Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karijawa, di kelurahan Karijawa, Kecamatan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang baru diresmikan menuai sorotan warga.

Kawasan yang dibangun sebagai ruang publik tersebut kerap tergenang air saat hujan karena tidak dilengkapi dengan sistem resapan air berupa biopori.

Kondisi genangan air ini dikhawatirkan dapat merusak struktur tanah serta mematikan rumput dan tanaman yang baru ditanam.

Atap Menara Nggusu Waru yang menjadi Ikon RTH, tidak mencerminkan nama dan ciri khas Nggusu Waru. (Foto.Dok.RRI/Mujtahidin)

Padahal, sebagai ruang terbuka hijau, aspek ekologis seperti daya serap tanah seharusnya menjadi perhatian utama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Iksan, warga Karijawa, menyayangkan tidak adanya biopori di sejumlah titik RTH. Menurutnya, genangan air yang terus berulang akan mempercepat kerusakan kawasan tersebut.

“Setiap hujan turun, air langsung tergenang karena tidak ada biopori. Ini bisa merusak tekstur tanah dan membuat rumput mati,” katanya, Sabtu (3/1/2026).

Selain persoalan genangan, warga juga menyoroti besarnya anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan RTH Karijawa.

Berdasarkan informasi yang beredar, proyek ini menelan anggaran lebih dari Rp4 miliar yang dikerjakan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama yang dilaksanakan pada tahun 2024, pembangunan RTH Karijawa menghabiskan anggaran sebesar Rp2,030 miliar. Sementara pada tahap kedua yang dikerjakan pada tahun 2025, anggaran kembali dikucurkan sebesar Rp2,3 miliar.

Dengan besarnya anggaran tersebut, warga menilai seharusnya kualitas pembangunan lebih diperhatikan, terutama pada aspek fungsional seperti sistem drainase dan resapan air.

Tak hanya itu, desain Menara Nggusu Waru yang menjadi ikon utama RTH Karijawa juga turut dipertanyakan.

Menara yang mengusung nama Nggusu Waru—filosofi hidup masyarakat Dompu—dinilai tidak mencerminkan identitas lokal dari sisi arsitektur.

Sejumlah warga menilai bentuk atap menara justru menyerupai rumah gadang khas Minangkabau, Sumatera Barat, bukan arsitektur tradisional Dompu.

“Namanya Menara Nggusu Waru, tapi atapnya mirip rumah gadang Minang. Ikon daerah seharusnya menampilkan ciri khas Dompu,” katanya.

Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan RTH Karijawa, baik dari segi teknis lingkungan, pemanfaatan anggaran, maupun kesesuaian desain dengan kearifan lokal, agar RTH benar-benar berfungsi optimal sebagai ruang publik dan identitas daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....