Keris Lombok Jadi Simbol Peradaban Budaya Sasak
- 29 Jun 2025 23:26 WIB
- Mataram
KBRN, Lombok Barat: Sebuah ritual sakral kembali digelar dengan penuh khidmat dan kemegahan. Bertajuk “Keris Lombok Bewaran”, ritual Mandian Keris dihelat oleh Majelis Adat Sasak bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Taman Narmada, Sabtu (28/6/2025) sebagai wujud pelestarian warisan budaya Sasak yang kaya nilai dan sejarah.
Ritual tahunan yang selalu dilangsungkan setiap bulan Muharram ini tak sekadar menjadi ajang adat. Kali ini, acara turut dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ), Wakil Ketua DPRD Abubakar Abdullah, Asda III H. Fauzan Husniadi, serta para tokoh adat, budayawan, kepala desa, dan pecinta keris se-Lombok Barat.
Dalam sambutannya, Bupati LAZ menyebut acara ini bukan hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga memiliki potensi luar biasa untuk dijadikan sebagai event pariwisata internasional.
“Kegiatan budaya seperti ini harus kita kemas menjadi tontonan yang menarik dunia. Ini bukan hanya warisan, tapi peluang ekonomi dan promosi pariwisata,” tegasnya.
Lebih jauh, Bupati LAZ mengusulkan agar Mandian Keris bisa dimasukkan dalam Calendar of Event Lombok Barat agar memiliki positioning kuat di mata wisatawan dan pelaku industri pariwisata. Dengan begitu, acara ini tak hanya bernilai spiritual dan budaya, tapi juga berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) dan ekonomi masyarakat lokal.
Sementara itu, Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan Keris adalah simbol jati diri dan kebesaran budaya Indonesia, khususnya Suku Sasak. Ia menjelaskan bahwa UNESCO telah mengakui keris sebagai warisan dunia sejak 2005, sehingga ritual ini adalah bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga martabat budaya bangsa.
“Keris bukan sekadar senjata, tapi simbol intelektual dan spiritual. Melalui Mandian Keris, kita rawat nilai-nilai itu untuk diwariskan lintas generasi,” kata Lalu Sajim.
Rangkaian kegiatan tahun ini semakin istimewa dengan peluncuran Kemaliq Bangsa Sasak, sarasehan keris, penandatanganan prasasti seumur hidup, serta Mandian Pusake, semuanya menguatkan posisi ritual ini sebagai pilar identitas budaya Sasak yang tak tergantikan.
Prosesi utama dilakukan setelah salat Isya hingga dini hari. Para sesepuh adat secara bergiliran memandikan keris, tombak, pedang, dan benda pusaka lainnya, diiringi doa-doa sakral dan tabuhan musik tradisional yang menyentuh batin.
Dengan semangat gotong royong dan partisipasi luas dari masyarakat, Mandian Keris tahun ini bukan sekadar ritual, tetapi sebuah panggung persatuan, pelestarian budaya, dan promosi wisata berbasis kearifan lokal.
"Jangan hanya jadi penonton di rumah sendiri,"seru Lalu Sajim. "Ayo ikut ambil peran membangun budaya Lombok Barat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....