Peraje, Tradisi Masyarakat Suku Sasak dalam Acara Khitanan

  • 17 Okt 2024 10:04 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Pulau Lombok khususnya dalam acara khitanan adalah Peraje. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam perayaan khitanan terutama pada saat bulan Maulid, tradisi Peraje atau sejenis arak arakan ini merupakan momen penting dalam kehidupan seorang anak pada saat akan disunat.

Lalu Hariadi seorang pemuka adat warga Dusun Mambalan menjelaskan Peraje adalah sebuah ritual yang dilakukan sebagai bentuk syukuran dan doa kepada Tuhan kepada anak yang akan disunat. Biasanya, acara ini diadakan oleh keluarga atau masyarakat yang mengadakan khitanan yang merupakan prosesi sunatan untuk anak laki-laki.

Kata Peraje berasal dari Bahasa Sasak (bahasa asli Lombok), yang memiliki arti "selamatan" atau "doa bersama". Dalam konteks khitanan, Peraje adalah upacara adat yang dilakukan untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan kelancaran bagi anak yang akan disunat serta seluruh anggota keluarga. Dalam tradisi ini, keluarga besar dan masyarakat berkumpul untuk memberikan doa dan dukungan kepada anak yang sedang menjalani proses tersebut.

Sebelum acara dimulai, keluarga yang mengadakan khitanan akan menyiapkan berbagai macam makanan tradisional khas Lombok. Beberapa makanan yang sering disajikan dalam acara Peraje antara lain. Semua makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas kelancaran acara dan juga sebagai bagian dari doa agar anak yang disunat diberikan kesehatan dan keselamatan.

Peraje bukan hanya sekedar upacara adat, tetapi juga merupakan bentuk keharmonisan sosial dalam masyarakat Lombok. Tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan rasa syukur kepada Tuhan atas setiap berkah yang diberikan. Dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dan masyarakat dalam acara ini, Peraje juga mempererat ikatan sosial antar warga desa.

Selain itu, Peraje juga mencerminkan hubungan antara manusia dengan alam dan Tuhan. Dalam pandangan masyarakat Sasak (sebutan bagi masyarakat Lombok), setiap peristiwa dalam hidup harus disyukuri, dan melalui doa serta ritual, mereka percaya bahwa Tuhan akan memberikan perlindungan serta kesehatan bagi sang anak yang akan menjalani proses khitanan.

Peraje adalah salah satu tradisi masyarakat Lombok yang memperkaya budaya lokal dan memperkuat ikatan sosial dalam komunitas. Melalui tradisi ini, masyarakat Lombok tidak hanya merayakan momen penting dalam kehidupan anak, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan. Walaupun dunia terus berubah, tradisi seperti Peraje tetap dilestarikan, mengingat pentingnya menjaga identitas budaya serta menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur mereka.

Peraje, dengan segala prosesi dan maknanya, adalah contoh betapa kuatnya pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok, sekaligus menjadi simbol kekuatan kebudayaan yang terus hidup di tengah perkembangan zaman. (RRI/Lalu Sajadi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....