Keutamaan Lailatul Qadar: Satu Malam Lebih Baik dari Seribu Bulan

  • 11 Mar 2026 08:47 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu momen paling istimewa yang dinantikan umat Islam pada bulan Ramadan. Malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” ini diyakini sebagai waktu turunnya rahmat, keberkahan, serta ampunan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU NTB, TGH Shufyan Saurie, LC MA, menjelaskan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada umat manusia. Menurutnya, satu malam ibadah pada Lailatul Qadar memiliki nilai yang melampaui ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun.

“Al-Qur’an menyebutkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah pada malam itu memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah,” ujar TGH Shufyan Rabu 11 Maret 2026.

Salah seorang pengurus LBM PWNU NTB ini menuturkan bahwa pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan kedamaian bagi para hamba yang menghidupkannya dengan ibadah. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa.

Meski memiliki keutamaan luar biasa, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.

“Dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar mengandung hikmah agar umat Islam bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadan,” katanya.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU NTB, TGH Shufyan Saurie,
Lc., M.A., saat syiar islam tahun lalu. (Foto: RRI/Dok. Pribadi).

TGH Shufyan juga mengingatkan teladan Rasulullah SAW yang meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Menurut para ulama, ungkapan “menghidupkan malamnya” menunjukkan bahwa Nabi mengisi malam-malam tersebut dengan berbagai bentuk ketaatan, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa.

Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika berharap bertemu dengan Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Sayyidah Aisyah RA:

“Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Menurut TGH Shufyan, doa tersebut mengandung makna mendalam karena tidak hanya memohon ampunan, tetapi juga menegaskan keyakinan bahwa Allah mencintai memberi maaf kepada hamba-Nya.

“Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang ditunggu, tetapi momentum spiritual untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah,” ucapnya.

Ia pun mengajak umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan amal kebajikan agar tidak melewatkan kesempatan meraih keberkahan malam yang penuh kemuliaan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....