Rezeki Sudah Tertakar, Ikhtiar Jangan Dilonggarkan

  • 28 Feb 2026 15:02 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Program Talkshow On Air Tauladan (Tanya Ustadz di Bulan Ramadan) di RRI Mataram Pro 2 FM kembali menghadirkan tema yang dekat dengan realitas masyarakat: “Kerja keras tapi hasil segini-gini aja (rezeki dan uang)”. Narasumbernya adalah Ustadz Wawan Irfansyah, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat yang akrab disapa Ustadz Wawan.

Ustadz Wawan menjelaskan bahwa rezeki bukan sekadar uang. Rezeki adalah segala sesuatu yang kita dapatkan, kita makan, kita minum, dan memberi manfaat bagi tubuh serta kehidupan. Kesehatan, kekuatan untuk bekerja, kemampuan beribadah, bahkan ketenangan hati termasuk rezeki. Artinya, ketika tubuh masih sehat dan mampu beraktivitas, itu sudah bagian dari nikmat rezeki yang besar.

Ia juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 7: “La’in syakartum la’aziidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid” yang berarti, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Menurut Ustadz Wawan, kunci agar rezeki terasa cukup dan bertambah adalah pandai bersyukur. Rasa syukur membuat hati tenang dan mengundang tambahan nikmat dari Allah.

Ustadz Wawan menegaskan bahwa setiap orang sudah memiliki bagian rezeki yang tertakar dan tidak akan tertukar. Tidak perlu iri dengan pencapaian orang lain, karena Allah sudah menetapkan jatah masing-masing. Tugas manusia adalah berikhtiar terlebih dahulu, kemudian bertawakal. Ikhtiar berarti bekerja keras, berusaha maksimal, dan tidak mudah menyerah. Tawakal berarti menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.

Dalam dunia usaha dan bisnis, ia mengingatkan agar berani mencoba. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Jika gagal, bangkit dan coba lagi sampai berhasil. Jangan berhenti hanya karena hasil belum sesuai harapan. Ketekunan dan konsistensi adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam.

Ia juga mengingatkan bahwa kefakiran bisa membawa seseorang pada keputusasaan, bahkan mendorong pada perbuatan negatif seperti judi online, pinjaman online berbunga tinggi, atau praktik riba. Karena itu, untuk terhindar dari kefakiran yang melemahkan iman, seseorang harus memperkuat keimanan melalui ibadah, zikir, takbir, dan ketaatan kepada Allah. Hati yang kuat imannya tidak mudah tergoda jalan pintas yang merusak.

Menurut Ustadz Wawan, dalam mencari rezeki jangan pernah meninggalkan salat. Jika ingin rezeki yang berkah, kembalikan semuanya kepada salat. Ada berbagai bentuk rezeki yang bisa diminta melalui doa dan ibadah, seperti rezeki taufik (kemampuan melakukan kebaikan) dan rezeki hidayah (petunjuk dari Allah). Ia bahkan membagikan pengalaman pribadi bahwa banyak keinginan dapat terwujud melalui konsistensi dalam salat dan bersholawat.

Ustadz Wawan juga menjelaskan tentang istidraj, yaitu kondisi ketika seseorang diberi kenikmatan dunia, namun justru semakin jauh dari Allah. Dunia bisa menjadi ujian bagi seorang Muslim. Karena itu, jangan mengukur keberhasilan hanya dari materi. Rezeki dibagi menjadi dua: rezeki zahir dan rezeki batin. Rezeki zahir adalah yang terlihat, seperti makanan, pekerjaan, dan kekuatan fisik. Rezeki batin meliputi ilmu, ketenangan, kenyamanan, serta kemudahan dalam beribadah.

Sebagai penutup, ia berpesan agar terus bekerja keras, menjauhi riba karena hukumnya haram dalam Islam, serta menjaga hati agar selalu bersyukur. Rezeki bukan hanya tentang uang, melainkan nikmat sehat, kesempatan beribadah, ilmu, dan ketenangan hidup. Jika iman dijaga dan usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaAllah rezeki akan terasa cukup dan penuh keberkahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....