Terungkap! Misteri Musik Lintas Imsakiyah Sahur RRI Mataram yang Viral
- 25 Feb 2026 13:44 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram: Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya pendengar setia RRI Mataram, ada satu melodi yang seolah menjadi "alarm" sakral setiap bulan Ramadan. Instrumen musik yang khas, dengan petikan dawai yang enerjik namun menenangkan, selalu hadir mengiringi Lintas Imsakiyah Sahur. Begitu musik ini mengalun, warga seolah mendapat komando tak tertulis: "Segera habiskan makanan, waktu imsak hampir tiba."
Namun, tahukah Anda dari mana asal musik yang telah menghiasi udara Mataram selama lebih dari satu dekade ini?
Berawal dari Kaset Tanpa Sampul
Misteri identitas musik ini akhirnya terungkap melalui penuturan Bapak Muhammad Hidayat (akrab disapa Pak Dayat), sosok Music Director (MD) Pro 1 RRI Mataram yang kini telah purna tugas. Pak Dayat menceritakan bahwa instrumen tersebut lahir dari sebuah ketidaksengajaan yang kreatif pada tahun 2014.
"Saat itu, Pak H. Hajar memberi saya sebuah kaset pita tanpa sampul. Warnanya putih dengan tulisan Arab di kedua sisinya," kenang Pak Dayat. Tanpa tahu judul lagu maupun penyanyinya, Pak Dayat mulai mengeksplorasi isi kaset tersebut.

Sentuhan Kreatif Sang Maestro "Potong-Sambung"
Bukan sekadar memutar lagu, Pak Dayat melakukan kurasi mendalam. Musik asli dalam kaset tersebut sebenarnya adalah sebuah orkestra yang memiliki vokal. Namun, untuk kebutuhan siaran sahur, Pak Dayat hanya mengambil bagian intro dan interlude (jeda musik tengah).
"Saya potong-potong, kemudian saya sambung kembali secara berulang (looping) agar durasinya panjang dan pas untuk latar belakang musik puasa atau fragmen Ramadan," jelasnya. Sejak tahun 2014 itulah, hasil kreativitas "potong-sambung" Pak Dayat resmi mengudara dan langsung melekat di telinga pendengar.
"Mana Musik Ceiit Ceiit Itu?"
Keunikan instrumen ini sempat diuji. Pak Dayat bercerita bahwa pada tahun kedua atau ketiga, ia sempat mencoba mengganti musik sahur tersebut dengan instrumen lain. Namun, reaksi tak terduga datang dari internal maupun pendengar.
Almarhum Pak Slamet Raharjo, salah satu tokoh senior di RRI saat itu, sampai bertanya langsung, "Mana musik sahur yang 'ceiit ceiit' itu? Banyak yang tanya katanya." Bunyi petikan dawai yang khas (yang diistilahkan 'ceiit ceiit') rupanya sudah menjadi identitas yang tak tergantikan. Akhirnya, musik itu dikembalikan lagi dan bertahan hingga hari ini.
Dari Timur Tengah Hingga Masjid di Lombok
Muncul berbagai spekulasi mengenai asal musik ini. Ada yang menyebutnya sebagai musik tari (dance) khas Timur Tengah, bahkan ada warga Lombok Tengah yang mengira itu adalah musik lokal saking akrabnya di telinga.
Kepopulerannya pun merambah ke luar frekuensi radio. Pak Dayat menceritakan rekannya yang bekerja di KPU bahkan pernah meminta salinan musik tersebut untuk diputar melalui pengeras suara masjid di wilayah Lombok Utara sebagai penanda sahur.
Warisan yang Melekat di Hati
Meski kini akses internet memudahkan pencarian lagu, bagi Pak Dayat, instrumen ini memiliki nilai historis karena lahir di era transisi saat RRI Mataram masih menggunakan media kaset dan pita ril. Hingga kini, instrumen tersebut tetap "aman" dari klaim hak cipta di platform digital, seolah alam pun merestui melodi ini menjadi milik masyarakat Mataram.
Bagi Pak Dayat, musik ini bukan sekadar pengisi waktu luang. "Setiap musik itu muncul menjelang Subuh, tanpa sadar orang-orang pasti mulai berhenti makan dan minum karena sebentar lagi imsak," ujarnya sambil terkekeh.
Kini, meski Pak Dayat sudah menikmati masa purnanya, karyanya tetap bergema setiap Ramadan. Sebuah warisan sederhana berupa melodi yang berhasil menyatukan perasaan ribuan pendengar dalam khidmatnya sahur di Pulau Seribu Masjid.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....