Kendali Konsumsi dan Solidaritas Sosial Dinilai Efektif Redam Inflasi Ramadan

  • 22 Feb 2026 20:31 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. KH. M. Zaidi Abdad, M.Ag., menilai pengendalian inflasi tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah. Ia menyebut perilaku konsumsi masyarakat turut berkontribusi besar terhadap stabilitas harga, terutama menjelang Ramadan.

Menurutnya, lonjakan harga bahan pokok kerap dipicu peningkatan permintaan yang tidak proporsional. Situasi tersebut berulang setiap tahun dan membentuk pola inflasi musiman.

“Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang berlangsung terus-menerus. Ketika permintaan melonjak tanpa kendali, tekanan harga akan semakin kuat,” ujarnya, Minggu 22 Februari 2026.

Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam mengatur konsumsi. Ramadan seharusnya menjadi momentum penguatan nilai spiritual, bukan justru ajang peningkatan belanja berlebihan.

“Sebagai individu, kita harus berperilaku ekonomi secara bijak. Membeli sesuai kebutuhan adalah langkah awal menahan laju inflasi,” katanya.

Budaya konsumtif yang meningkat menjelang puasa dinilai dapat menciptakan ketidakseimbangan pasar. Permintaan yang tinggi tanpa diimbangi distribusi yang stabil akan mendorong harga naik.

“Hindari membeli barang yang tidak diperlukan. Jika konsumsi berlebihan terus terjadi, pasar akan merespons dengan kenaikan harga,” jelasnya.

Selain konsumsi berlebih, praktik spekulasi dan penimbunan juga menjadi faktor pemicu inflasi. Kelangkaan barang sering kali bukan karena pasokan minim, melainkan distribusi yang sengaja ditahan.

“Penimbunan membuat barang seolah langka. Ketika pasokan di pasar berkurang, harga akan melonjak,” ujarnya.

Dalam perspektif ekonomi syariah, stabilitas harga berkaitan erat dengan nilai moral dan keadilan. Aktivitas ekonomi harus menjunjung prinsip keseimbangan serta tanggung jawab sosial.

“Ekonomi syariah menekankan aspek etika dalam transaksi. Inflasi yang merugikan publik tidak sejalan dengan prinsip keadilan,” paparnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya solidaritas sosial dalam menjaga daya beli kelompok rentan. Instrumen zakat dan sedekah dinilai mampu menjadi bantalan ekonomi saat harga meningkat.

“Zakat dan sedekah memiliki dimensi sosial yang kuat. Itu dapat membantu memperkuat daya beli masyarakat kurang mampu,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan kepedulian sosial selama Ramadan dapat meredam dampak inflasi secara langsung. Distribusi kekayaan yang lebih merata akan memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

“Semangat berbagi bukan hanya ibadah, tetapi juga solusi sosial-ekonomi. Dengan kepedulian bersama, tekanan inflasi bisa diminimalkan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....