Gym jelang Berbuka, Alternatif Warga Sumbawa saat Ngabuburit
- 20 Feb 2026 15:52 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa: Untuk menunggu waktu berbuka puasa, banyak hal yang dilakukan warga Sumbawa saat ngabuburit. Ada yang berbelanja takjil, ada yang sekedar nongkrong, ada juga yang berolahraga.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana pusat kebugaran di Kota Sumbawa tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah warga memilih mengisi waktu ngabuburit dengan berolahraga ringan hingga latihan beban. Bagi sebagian orang, berolahraga sebelum azan magrib justru menjadi momen paling efektif untuk membentuk tubuh.
Salah satunya Roni Atmaja. Ia mengaku rutin berolahraga menjelang berbuka puasa karena merasa lebih nyaman.
“Saya pilih berolahraga menjelang berbuka puasa karena saya rasa lebih nyaman saja. Kadang orang beranggapan olahraga sebelum buka puasa itu berat karena lapar dan haus, ditambah lagi angkat beban. Tapi menurut saya tidak seperti itu,” ujarnya saat ditemui di salah satu gym di Kota Sumbawa.
Menurut Roni, latihan sebelum berbuka justru membantu pembakaran lemak lebih maksimal. Pasalnya, energi yang digunakan tubuh saat berolahraga dalam kondisi berpuasa berasal dari cadangan lemak.
“Kalau mau membentuk tubuh, menurut saya ini saat yang paling pas. Pembakaran lemak dalam tubuh lebih maksimal karena energi yang dipakai dari lemak tubuh,” katanya.
Meski demikian, ia membatasi durasi latihan. Roni mengaku hanya berolahraga sekitar 45 menit hingga satu jam. Ia juga menyesuaikan intensitas agar tidak berlebihan.
“Olahraganya jangan terlalu lama. Sekitar 45 menit sampai satu jam cukup. Setelah itu kita bisa berbuka, lanjut tarawih, tadarus, lalu istirahat lebih maksimal sampai sahur,” tambahnya.
Fenomena olahraga jelang berbuka ini mendapat tanggapan dari Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, dr. Abadi Abdullah. Ia mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan kondisi tubuh, terutama risiko hipoglikemia.
Hipoglikemia merupakan kondisi ketika kadar gula dalam darah turun di bawah normal, yakni di bawah angka 90 mg/dL. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh lemas, pusing, hingga pingsan.
“Kalau dipakai olahraga lagi, takutnya hipoglikemi. Kadar gula dalam darah semakin turun di bawah normal,” jelasnya, Jumat 20 Februari 2026.
Menurut dr. Abadi, olahraga sebelum berbuka puasa masih diperbolehkan bagi orang sehat, namun dengan catatan intensitasnya ringan dan durasinya singkat.
“Untuk orang sehat boleh saja, tapi aktivitasnya santai. Tidak perlu yang berat-berat. Cukup 15 sampai 30 menit, seperti jalan kaki santai atau yoga,” ujarnya.
Ia menegaskan, latihan beban di gym tetap bisa dilakukan, tetapi harus mengurangi intensitas dan beban dari biasanya. “Pokoknya ringan. Intensitasnya tidak boleh seperti hari biasa. Paling aman sebenarnya setelah berbuka puasa,” katanya.
Bagi masyarakat yang memiliki penyakit tertentu, olahraga sebelum berbuka tidak disarankan tanpa konsultasi medis. Risiko penurunan gula darah dan dehidrasi dinilai lebih besar pada kelompok tersebut.
Meski demikian, dr. Abadi mengakui bahwa puasa yang dikombinasikan dengan olahraga ringan dapat membantu proses penurunan lemak tubuh. “Puasa saja sudah membantu, apalagi ditambah olahraga. Yang penting jangan terlalu berat,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap mengontrol pola makan saat berbuka. Kebiasaan “balas dendam” dengan makan berlebihan justru dapat menghilangkan manfaat puasa dan olahraga.
“Jangan sampai saat buka puasa makannya berlebihan. Tetap dikontrol. Supaya manfaat puasa terasa dari pagi sampai magrib,” imbaunya.
Dengan pengaturan intensitas, durasi, serta pola makan yang tepat, lanjutnya, olahraga menjelang berbuka dapat menjadi alternatif kegiatan ngabuburit yang sehat dan produktif bagi warga Sumbawa selama Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....