Dosen UBG Soroti Peran Masyarakat Kendalikan Inflasi saat Ramadan

  • 19 Feb 2026 18:42 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kenaikan harga bahan pokok selama Ramadan tidak terlepas dari lonjakan permintaan masyarakat. Peningkatan konsumsi yang terjadi secara serentak dalam waktu singkat mendorong tekanan harga di pasar. Situasi ini menjadi pola tahunan yang terus berulang menjelang Idulfitri.

Raden Bagus Faizal Irany Sidharta, SE, MM, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bumigora (UBG), menjelaskan inflasi terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketika permintaan melonjak sementara suplai terbatas, harga cenderung meningkat. Ramadan memperkuat dinamika tersebut karena intensitas konsumsi rumah tangga naik signifikan.

“Secara sederhana, ketika permintaan sangat tinggi dan suplai tidak bertambah, harga pasti naik. Hukum pasar itu selalu berlaku, termasuk saat Ramadan,” ungkapnya, Kamis 19 Februari 2026.

Ia menilai euforia menyambut Lebaran turut mendorong pola belanja berlebihan. Banyak rumah tangga meningkatkan pembelian untuk kebutuhan jamuan keluarga dan tradisi tahunan. Tanpa perencanaan, lonjakan pembelian memperbesar tekanan pasar.

Fenomena pembelian serentak dalam jumlah besar dinilai mempercepat kenaikan harga. Ketika konsumen membeli dalam waktu bersamaan, permintaan meningkat tajam. Kondisi ini membuat pedagang menyesuaikan harga lebih cepat.

“Ini bukan panic buying yang harus dilakukan semua orang. Kebutuhan seharusnya tetap disesuaikan dengan rencana dan kemampuan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa faktor psikologis seperti rasa khawatir kehabisan barang sering memperburuk situasi. Fenomena fear of missing out atau FOMO membuat masyarakat tergesa-gesa berbelanja. Padahal kebutuhan riil belum tentu sebesar pembelian yang dilakukan.

Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi kunci pengendalian inflasi dari sisi permintaan. Rumah tangga perlu menyusun perencanaan belanja sebelum memasuki Ramadan. Penyusunan daftar kebutuhan membantu menghindari pembelian impulsif.

“Perencanaan di tingkat rumah tangga itu sangat penting. Dengan belanja terukur, masyarakat ikut membantu menjaga stabilitas harga,” katanya.

Ia juga menyarankan pengaturan waktu belanja agar tidak terjadi lonjakan serentak. Penyebaran waktu pembelian dapat mengurangi tekanan permintaan dalam satu momentum. Strategi sederhana ini berdampak pada kestabilan pasar.

Selain itu, literasi ekonomi dinilai perlu terus diperkuat. Pemahaman tentang mekanisme inflasi akan membentuk perilaku konsumsi yang lebih rasional. Kesadaran kolektif menjadi fondasi pengendalian harga.

“Inflasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat juga punya peran nyata dalam mengendalikan tekanan harga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan menjadi prinsip utama. Ramadan seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, termasuk dalam konsumsi. Dengan pola belanja yang bijak, tekanan inflasi dapat diminimalkan secara bersama-sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....