Tradisi Orang Indonesia Menyambut Bulan Suci Ramadan
- 19 Feb 2026 09:09 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Bulan suci Ramadan di Indonesia hadir dengan berbagai macam tradisi rakyat yang hidup dan dijaga hingga hari ini. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki cara khas menyambut bulan penuh berkah ini.
Dalam akun YouTube RRI Net Official dijelaskan, pada berbagai daerah di pulau Jawa, masyarakat mengenal tradisi padusan. Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi. Tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri baik secara fisik maupun batin. Sementara itu di Jawa Barat, masyarakat Sunda memiliki tradisi munggahan. Kata munggahan berasal dari kata unggah yang artinya naik yang bermakna menaikkan kesiapan diri menuju bulan suci. Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama keluarga silaturahmi, serta saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.
Sehingga, baik padusan maupun munggahan, keduanya mengajarkan satu nilai yang sama yakni membersihkan diri dan hati sebelum berpuasa.
Sedangkan di daerah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, memiliki tradisi yang bernama megengan. Megengan dilakukan dengan membagikan makanan seperti kue apem atau hidangan khas lainnya kepada tetangga dan kerabat. Kata megengan sendiri berasal dari kata megang yang berarti menahan diri. Tradisi ini menjadi simbol kesiapan menahan hawa nafsu selama Ramadan sekaligus mempererat silaturahmi dan budaya berbagi sebelum puasa dimulai.
Sedangkan di Kalimantan Selatan masyarakat menyambut Ramadan dengan tradisi maraban yaitu doa bersama dan jamuan makan sebagai ungkapan syukur. Sementara di Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau mengenal tradisi malamang, yaitu memasak lemang secara gotong royong bersama keluarga dan warga sekitar, yang sebenarnya memiliki makna tentang kebersamaan, musyawarah, dan memperkuat ikatan sosial menjelang bulan suci.
Di Aceh, masyarakat menyambut Ramadan dengan megang, tradisi memasak dan menyantap daging bersama keluarga sebelum puasa. Di Sulawesi Selatan terdapat tradisi mapogau sihanua yang diisi dengan doa dan syukuran menjelang Ramadan. Di berbagai daerah lainnya, ziarah kubur, tahlilan, dan doa bersama, menjadi cara masyarakat menghormati leluhur sekaligus mempersiapkan diri secara spiritual. Semua tradisi ini menunjukkan bagaimana Islam dan budaya lokal berpadu secara harmonis di Nusantara.
Dengan demikian, tradisi ini memiliki makna bahwa ibadah tidak hanya mengenai hubungan dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Semua tradisi tersebut, semuanya mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Sehingga Ramadan di Indonesia bukan hanya tentang puasa tetapi juga tentang tradisi yang menyatukan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....