Harga Cabai Merah di Sumbawa Melonjak jelang Ramadan
- 12 Feb 2026 13:52 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa: Harga cabai merah di Kabupaten Sumbawa mengalami lonjakan signifikan menjelang bulan Ramadan. Dari harga Rp30 ribu per kilogram pada akhir Januari 2026, harga cabai rawit awal Februari naik menjadi Rp80 ribu per kilogram, dan hingga saat ini terus meningkat hingga Rp90 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, Adi Nusantara, mengatakan kenaikan harga tersebut merupakan fenomena wajar yang dipengaruhi mekanisme pasar. Namun tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Memang ada geliat harga sejak awal Februari hingga saat ini. Salah satu pemicu kenaikan adalah faktor cuaca, selain itu banyaknya distributor juga memengaruhi harga cabai yang relatif lebih rendah dibanding daerah lain di NTB,” jelas Adi Nusantara, Kamis 12 Februari 2026.
Data Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan menunjukkan, stok cabai rawit di Sumbawa saat ini tercatat 195 ton, dengan kebutuhan rata-rata masyarakat sekitar 20 ton per minggu. Meskipun stok cukup, fluktuasi harga tetap terjadi, karena pasokan dan distribusi yang dipengaruhi sejumlah faktor eksternal.
Adi menambahkan, pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan pemantauan harga secara rutin, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Pemantauan ini menjadi dasar bagi pengendalian harga komoditas strategis, termasuk cabai, menjelang momen penting seperti Ramadan dan Idul Fitri.
“Kalau sesuai mekanisme pasar, pergerakan harga memang tergantung pasokan. Namun kami tetap melakukan intervensi pasar untuk menahan gejolak, agar harga komoditas lain juga tidak ikut naik,” ujar Adi.
Menurutnya, intervensi pasar dilakukan dengan dua kanal utama. Pertama, melalui kebijakan pemerintah dalam penyediaan pasokan dan distribusi. Kedua, mendorong masyarakat menanam cabai sendiri agar kebutuhan pangan pokok, khususnya cabai, dapat terpenuhi secara mandiri. Program ini sebelumnya dikenal dengan KRPL, kini bernama P2L, yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat.
“Kebijakan ini penting karena cabai sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, tidak bisa lepas dari konsumsi sehari-hari. Dengan intervensi pasar, kami berharap harga cabai, bawang, dan komoditas strategis lain tetap stabil,” kata Adi.
Menurutnya, intervensi menjadi lebih penting ketika terjadi persepsi publik terhadap kenaikan harga. “Kalau masyarakat melihat harga cabai naik, mereka akan menganggap semua komoditas lain juga akan naik. Intervensi bertujuan menahan persepsi tersebut, sehingga gejolak harga bisa dikendalikan,” tuturnya.
Pemantauan harga cabai akan dilakukan secara serentak di seluruh NTB pada 13 Februari mendatang, sebagai langkah awal menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan. Dengan langkah ini, pemerintah berharap lonjakan harga komoditas strategis dapat diminimalkan dan masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan harga wajar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....