Asal Muasal Istilah GOAT, Greatest of All Time dalam Dunia Sepak Bola

  • 08 Jul 2026 15:06 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pecinta sepak bola tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah GOAT. Julukan ini sering muncul dalam perdebatan para penggemar ketika membahas siapa yang paling layak disebut pemain terbaik sepanjang sejarah. Nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Pelé, hingga Diego Maradona hampir selalu masuk dalam daftar tersebut.

GOAT merupakan singkatan dari Greatest of All Time yang berarti “yang terhebat sepanjang masa”. Gelar ini bukan penghargaan resmi dari organisasi sepak bola, melainkan bentuk pengakuan publik terhadap atlet yang dinilai memiliki prestasi, kualitas, dan pengaruh luar biasa dibandingkan pemain lain pada masanya.

Meski kini identik dengan sepak bola, istilah GOAT ternyata tidak berasal dari olahraga tersebut. Julukan ini mulai populer di dunia olahraga berkat legenda tinju dunia, Muhammad Ali. Sejak era 1960-an, Ali telah memperkenalkan dirinya dengan sebutan The Greatest, sebagai bentuk keyakinan atas kemampuan yang dimilikinya.

Popularitas istilah GOAT semakin meningkat ketika pada tahun 1992 istri Muhammad Ali, Lonnie Ali, mendirikan perusahaan bernama GOAT Inc. untuk mengelola hak komersial sang juara dunia tinju. Sejak saat itu, akronim GOAT mulai digunakan media dan masyarakat untuk menyebut atlet terbaik dalam berbagai cabang olahraga.

Dilansir dari FIFA, dalam dunia sepak bola, perdebatan mengenai GOAT telah berlangsung lintas generasi. Pada era 1950-an hingga 1970-an, Pelé dianggap sebagai pemain paling berpengaruh setelah mempersembahkan tiga gelar Piala Dunia bagi Brasil. Prestasi tersebut hingga kini belum mampu disamai pemain lain.

Memasuki dekade 1980-an, Diego Maradona menjadi ikon baru setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 melalui penampilan yang dikenang sebagai salah satu performa individu terbaik dalam sejarah sepak bola.

Namun, istilah GOAT benar-benar menjadi fenomena global pada era persaingan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Selama lebih dari satu dekade, keduanya silih berganti memecahkan rekor, mengoleksi trofi, dan meraih penghargaan individu. Rivalitas mereka bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah olahraga modern.

Keberhasilan Lionel Messi mengantarkan Argentina menjadi juara 2022 FIFA World Cup membuat banyak pengamat menilai perdebatan GOAT mulai menemukan jawabannya. Di sisi lain, pendukung Cristiano Ronaldo tetap beranggapan bahwa rekor gol internasional, kesuksesan di berbagai liga Eropa, serta konsistensinya hingga usia senja menjadikannya layak menyandang predikat tersebut.

Menariknya, tidak ada ukuran baku untuk menentukan siapa GOAT. Sebagian orang menilai dari jumlah trofi, sebagian lagi melihat kemampuan individu, rekor yang dipecahkan, pengaruh terhadap permainan, hingga kemampuan tampil dalam laga-laga besar.

Karena itulah, perdebatan mengenai GOAT kemungkinan tidak akan pernah berakhir. Setiap generasi memiliki pahlawannya sendiri. Bagi generasi terdahulu mungkin Pelé atau Maradona, sedangkan generasi saat ini lebih akrab dengan Messi dan Ronaldo.

Lebih dari sekadar sebuah singkatan, GOAT telah menjadi simbol penghormatan tertinggi bagi atlet yang mampu mengubah sejarah olahraga. Dan dalam sepak bola, perdebatan mengenai siapa yang paling layak menyandang gelar tersebut akan terus menjadi bagian dari pesona permainan yang dicintai miliaran orang di seluruh dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....