Dibantu Doa dan "Sembeq", Marquez Tetap Kesulitan Taklukkan Sirkuit Mandalika
- 05 Okt 2025 14:29 WIB
- Mataram
Lombok Tengah: Harapan besar agar Marc Marquez mampu menaklukkan Sirkuit Mandalika kembali pupus. Sang juara dunia MotoGP itu harus mengakhiri balapan lebih cepat setelah terjatuh di lap awal MotoGP Mandalika 2025, Minggu (5/10/2025).
Insiden tersebut terjadi sesaat setelah balapan dimulai. Marquez yang berusaha menyalip di tikungan pertama kehilangan kendali motornya dan terjatuh bersama Marco Bezzecchi yang start di posisi pertama. Kedua pembalap itu tak mampu melanjutkan balapan dan harus menepi ke paddock dengan wajah kecewa.
Tragedi ini menambah panjang daftar kesialan Marquez di Sirkuit Mandalika. Sejak pertama kali digelar pada 2022, lintasan di kawasan Lombok Tengah itu seolah menjadi momok bagi pembalap berjuluk The Baby Alien tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan, namun keberuntungan belum juga berpihak.
Padahal sehari sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, sempat mengirimkan doa khusus bagi Marquez. Iqbal memanjatkan surat Al-Fatihah agar sang juara dunia itu bisa menaklukkan “kutukan” Mandalika dan tampil sebagai pemenang.
“Kita kirimkan Al-Fatihah untuk Marc Marquez, semoga bisa menaklukkan Mandalika dan tampil sebagai juara,” ujar Gubernur Iqbal.
Namun, kenyataan berkata lain. Marquez justru kembali harus tumbang di lintasan yang dikenal memiliki karakter menantang dengan tikungan cepat dan permukaan aspal yang ekstrem saat panas.
Meski begitu, sorak-sorai penonton tetap menggema di tribun. Mereka menyambut para pembalap yang masih bertarung sengit di lintasan, sementara nama Marquez kembali menjadi buah bibir antara simpati dan tak percaya.
Sebelumnya, para pembalap MotoGP Mandalika 2025 saat tiba di Bandara Internasional Lombok langsung di Sembeq. Sembeq ini diberikan kepada para pembalap dan kru agar selamat saat belapan.
Sembeq adalah ritual adat masyarakat Sasak, berupa goresan merah di dahi yang terbuat dari campuran sirih, pinang, dan kapur, dengan makna utama keselamatan, keberkahan, dan doa untuk menolak bala. Ritual ini juga menjadi simbol penghormatan, kearifan lokal, dan upaya pelestarian budaya yang berpotensi menjadi magnet pariwisata bagi Lombok
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....