Praktisi Soroti Pengelolaan Anggaran KONI Dompu di Porprov XII NTB 2026

  • 24 Jul 2026 09:45 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Pengelolaan anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Dompu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Nusa Tenggara Barat (NTB) 2026 menuai sorotan.

Kritik muncul setelah beredar informasi bahwa tiga cabang olahraga (cabor), yakni sepak bola, bola voli putra, dan muaythai, diberangkatkan ke ajang tersebut menggunakan biaya mandiri, meski Pemerintah Kabupaten Dompu telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp2 miliar melalui APBD untuk mendukung kontingen.

Praktisi olahraga Dompu, Abdullah, menilai kondisi tersebut menjadi ironi karena ketiga cabor tersebut selama ini dikenal sebagai penyumbang prestasi bagi daerah. Pada Porprov XI NTB 2023, sepak bola yang diperkuat Persidom bahkan mampu menembus posisi empat besar NTB, sementara bola voli putra dan muaythai juga menjadi penyumbang medali bagi Kabupaten Dompu.

"Jika benar ada atlet dan pelatih yang harus berangkat menggunakan biaya pribadi, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan anggaran kontingen. Prioritas seharusnya diberikan kepada atlet dan pelatih yang bertanding, bukan pada hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan prestasi," katanya, Jum’at, 24 Juli 2026.

Ia juga menyoroti komposisi kontingen yang dinilai terlalu besar di luar kebutuhan teknis pertandingan. Kabupaten Dompu mengirimkan total 617 personel, terdiri dari 424 atlet, 87 pelatih, 43 ofisial, serta 63 panitia dan tenaga medis, untuk mengikuti 40 cabang olahraga dari total 71 cabor yang dipertandingkan.

Menurut Abdullah, berkembang informasi di kalangan insan olahraga bahwa sejumlah pengurus KONI dimasukkan ke dalam daftar ofisial maupun kontingen, sehingga memperoleh fasilitas keberangkatan, akomodasi, konsumsi hingga seragam.

Kondisi itu dinilai berpotensi membengkakkan anggaran yang seharusnya dapat dialihkan untuk membiayai atlet dan pelatih.

"Kalau anggaran yang digunakan untuk tim pendukung dialihkan sepenuhnya kepada atlet dan pelatih, saya yakin tidak akan ada atlet yang harus berangkat dengan biaya mandiri," ujarnya.

Ia mempertanyakan makna prestasi yang diraih apabila atlet harus membiayai sendiri keikutsertaannya.

"Kalau atlet menggunakan uang pribadi untuk bertanding, kemudian meraih medali, apakah itu sepenuhnya bisa disebut sebagai prestasi hasil dukungan pemerintah daerah? Pertanyaan ini wajar muncul di tengah masyarakat," katanya.

Abdullah juga mengingatkan bahwa penggunaan anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel. Menurutnya, apabila terdapat penyimpangan dalam pengelolaan anggaran, maka berpotensi menjadi perhatian aparat penegak hukum (APH).

"Anggaran lebih dari Rp2 miliar yang bersumber dari APBD harus dikelola secara terbuka. Jangan sampai menimbulkan dugaan penyimpangan yang akhirnya berujung pada persoalan hukum," tegasnya.

Di sisi lain, Abdullah menilai masyarakat tidak akan menilai banyaknya cabang olahraga yang diikuti, melainkan capaian prestasi akhir Kabupaten Dompu. Publik, kata dia, akan membandingkan hasil Porprov XII NTB 2026 dengan prestasi sebelumnya, yakni menempati peringkat ketiga pada Porprov X NTB 2018 dan meningkat menjadi peringkat kedua pada Porprov XI NTB 2023.

Sementara itu, hingga Kamis 23 Juli 2026, kontingen Kabupaten Dompu telah mengoleksi 167 medali, terdiri dari 39 medali emas, 45 medali perak, dan 86 medali perunggu.

Cabang olahraga bela diri masih menjadi penyumbang medali terbanyak. Tarung Derajat memimpin dengan lima medali emas, disusul Tinju (Pertina), Kempo, Kick Boxing, IBCA MMA, dan Atletik yang masing-masing menyumbangkan tiga medali emas.

Ketua Koni Kabupaten Dompu, Asrullah beberapa waktu lalu kepada RRI, menegaskan, terkait dengan biaya sendiri terhadap beberapa cabor, atas kesepakatan antara Koni dan Cabor. Ada beberapa cabor yang melaukan sharing anggaran antara cabor dan Koni.

“Hanya sepak bola yang tidak berani sharing anggaran,” katanya.

Alasan PSSI, karena Persidom yang menjadi tim Kabupaten Dompu, sedang tidak memiliki kas, pasca mengikuti Liga 4.

Terkait prestasi, Asrullah optimis akan mampu memeprtahankan perolehan medali, namun untuk menjadi juara umum atau sekedar memeprtahankan posisi ke dua, belum bisa dipikirkan.

Selain soal anggaran, beberapa cabor yang berpotensi penghasil medali terbanyak, Dompu tidak mengirimkan atlet. Selain atlet tidak memiliki, kepengurusan di tingkat Kabupaten, juga tidak ada.

Beberapa cabang olahraga yang menjadi penyumbang medali terbanyak di antaranya aerosport, paralayang, terjun payung, golf dan dansa sport. Total medali yang diperebutkan pada cabang-cabang tersebut mencapai sekitar 60 medali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....