KONEKSI Dorong Riset Inklusif, Sargassum Jadi Produk Bernilai Ekonomi

  • 02 Okt 2026 09:13 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Riset modern harus melibatkan kelompok terpinggirkan termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat Indonesia Timur untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan lapangan.
  • KONEKSI, kemitraan Australia-Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi, mengembangkan Gender Equity Leadership Program (GELP) untuk mendorong integrasi perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial.
  • Program GELP bertujuan memasukkan perspektif GEDSI (Gender, Equity, Disability, and Social Inclusion) sejak proses penelitian dimulai hingga penerapan hasil penelitian di masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta – Riset tidak lagi cukup hanya menghasilkan temuan ilmiah. Keterlibatan kelompok yang selama ini kurang terwakili, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat di kawasan Indonesia Timur, dinilai menjadi bagian penting agar pengetahuan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Semangat tersebut menjadi salah satu fokus KONEKSI, kemitraan Australia-Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi, melalui Gender Equity Leadership Program (GELP). Program ini mendorong peneliti memasukkan perspektif kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial atau GEDSI sejak proses penelitian hingga penerapan hasilnya.

Program tersebut mencapai tahap akhir melalui GELP Symposium yang berlangsung pada 28–30 September 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan 29 peneliti Indonesia yang terdiri atas 23 perempuan dan enam laki-laki.

Direktur Manajemen Talenta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ajeng Arum Sari menilai pendekatan inklusif memiliki kaitan erat dengan kualitas penelitian dan inovasi.

“Bagi saya, simposium ini merupakan ruang penting karena mempertemukan tiga hal yang erat kaitannya dengan pengembangan talenta di bidang riset dan inovasi, yaitu pengetahuan, kepemimpinan, dan perubahan,” ujar Ajeng, Kamis 1 Oktober 2026.

Menurutnya, persoalan pembangunan yang semakin kompleks membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu sekaligus pengalaman yang beragam. Karena itu, GEDSI tidak semata-mata ditempatkan sebagai nilai inklusivitas, tetapi juga sebagai pendekatan untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih relevan.

“GEDSI bukan hanya berkaitan dengan inklusivitas sebagai nilai, tetapi juga berhubungan dengan kualitas dan relevansi pengetahuan yang kita hasilkan,” katanya menegaskan.

GELP sendiri telah berjalan melalui empat tahapan sejak April 2026. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai kepemimpinan feminis, melakukan refleksi atas pengalaman masing-masing, serta mempelajari cara membangun kerangka riset yang peka terhadap gender dan inklusi sosial.

Proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi dan lokakarya daring dengan pendampingan mentor. Peserta juga membangun dukungan satu sama lain sekaligus mengembangkan kapasitas kepemimpinan dalam sektor pengetahuan.

Dalam simposium, penyelenggara juga memastikan keterlibatan peserta dengan kebutuhan yang beragam. Dua peserta perempuan yang sedang menyusui, tujuh penyandang disabilitas, serta tujuh peserta dari kawasan Indonesia Timur memperoleh akomodasi yang disesuaikan agar dapat mengikuti kegiatan secara bermakna.

Sejumlah hasil penelitian kemudian dipresentasikan melalui poster dengan lima kelompok tema, yakni anak dan pemuda, caregiver dan kesehatan, kelompok marginal, pesisir, serta pangan dan energi.

Pada momentum yang sama, KONEKSI meluncurkan Gender Equality Network (GEN). Jejaring ini diarahkan menjadi ruang pertemuan peneliti dan praktisi untuk memperkuat perspektif kesetaraan gender dalam pengembangan pengetahuan, pembangunan, dan inovasi.

Salah satu penelitian yang mendapat ruang dalam forum tersebut datang dari Athanasia Amanda Septevani dari BRIN bersama The University of Queensland melalui riset bertajuk Sustainable Biomaterials from Macroalgae: A Dual Approach to Food Security and Ocean Health.

Penelitian itu mengangkat potensi Sargassum, jenis rumput laut cokelat yang melimpah di kawasan pesisir Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama ini, pemanfaatannya oleh masyarakat masih relatif terbatas, mulai dari bahan pangan, pupuk organik hingga dijual dalam bentuk mentah.

Padahal, karakter wilayah pesisir Gunungkidul yang banyak memiliki pantai berbatu mendukung pertumbuhan Sargassum. Kondisi tersebut kemudian dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan pengolahan yang dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Pendekatan penelitian tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Komunitas pesisir juga dilibatkan dalam prosesnya, terutama perempuan yang sehari-hari beraktivitas di kawasan tersebut.

Lebih dari 50 anggota komunitas pesisir ikut dalam proses pengolahan cairan hasil perasan Sargassum menjadi bahan baku ekoenzim antibakteri.

Amanda mengatakan keterlibatan masyarakat membantu peneliti memahami kebutuhan nyata di lapangan sebelum teknologi dikembangkan lebih jauh.

“Dengan melihat sumber daya yang tersedia di Gunungkidul, penelitian ini melihat bagaimana cairan hasil perasan Sargassum yang sebelumnya hanya dibuang saja dan belum dimanfaatkan, dapat diolah sebagai bahan baku ekoenzim antibakteri,” ucapnya.

Ia menambahkan, perempuan yang tinggal di kawasan pesisir memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat menjadi masukan dalam merancang teknologi maupun produk turunan Sargassum.

“Dari situ kami bisa belajar apa yang mereka butuhkan dan menyesuaikan pengembangan teknologi agar lebih dekat dengan kondisi di lapangan,” katanya.

Bagi masyarakat, keterlibatan langsung dalam penelitian tersebut juga membuka pengetahuan baru mengenai potensi sumber daya yang selama ini berada di sekitar mereka.

Kepala Dukuh Dunggubah I Gunungkidul, Aji Surya Utama, mengatakan masyarakat sebelumnya belum mengetahui bahwa cairan hasil perasan Sargassum dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

“Sebelumnya kami belum tahu kalau cairan hasil perasan Sargassum juga bisa dimanfaatkan. Setelah mengikuti lokakarya, kami jadi tahu bagaimana prosesnya dan bisa langsung mencoba,” ujarnya.

Riset tersebut selanjutnya diarahkan pada pengembangan ekoenzim sebagai bagian dari teknologi biomaterial. Salah satu peluang yang tengah dikaji adalah pemanfaatannya dalam smart packaging pangan antibakteri.

Selain itu, tim peneliti juga berencana mengembangkan indikator kesegaran pangan yang memanfaatkan perubahan tingkat keasaman atau pH. Perubahan tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan tanda visual mengenai perubahan kualitas produk pangan.

Pemanfaatan komponen Sargassum dengan pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan produk bernilai ekonomi. Riset juga membawa agenda yang lebih luas, yakni mendukung keamanan pangan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara bertanggung jawab.

Di titik inilah pendekatan GEDSI dalam GELP mendapat konteks yang lebih nyata: masyarakat tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima hasil penelitian, tetapi turut menjadi bagian dari proses menemukan persoalan, menguji gagasan, hingga mengembangkan teknologi yang sesuai kebutuhan.

“Karena itu, kami melibatkan komunitas sejak prosesnya, termasuk perempuan yang sehari-hari tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....