Kisah Berdirinya RRI hingga Menjadi Asal Mula Hari Radio Nasional
- 10 Sep 2026 09:38 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram: Saat ini informasi dan berita sudah bisa diakses dengan sangat mudah. Berbeda dengan situasi Indonesia saat beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan, pada 17 Agustus 1945. Sekutu dan tentara Belanda mulai datang kembali untuk merebut tanah air. Sementara kabar kemerdekaan belum tersebar merata ke seluruh pelosok Nusantara.
Di tengah ancaman perang dan simpang siurnya informasi, para tokoh radio lokal mengambil langkah dan bertindak demi membela kedaulatan bangsa. Tepat pada 11 September 1945, delapan stasiun radio daerah berikrar menyatukan corong siaran stasiun radio daerah. Berikrar menyatukan corong siaran mereka dalam satu wadah perjuangan.
Saat pendudukan Jepang, siaran radio diatur oleh lembaga penyiaran militer Jepang bernama Hoso Kyoku. Tetapi ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, stasiun-stasiun Hoso Kyoku di berbagai daerah dihentikan operasinya oleh tentara pendudukan. Peralatan siaran disegel dan dijaga ketat oleh tentara Jepang. Kondisi ini membuat Indonesia berada dalam bahaya ruang hampa udara informasi. Rakyat membutuhkan wadah resmi untuk mendengarkan instruksi pemerintah pusat. Sementara dunia luar harus tahu bahwa Republik Indonesia telah merdeka.
Kondisi kritis ini menjadikan para pembuat siaran dan teknisi radio Indonesia tidak tinggal diam. Pada tanggal 11 September 1945 pukul 17.00 WIB para utusan dari delapan stasiun radio daerah berkumpul di Gedung Menteng 31 Jakarta. Delapan stasiun radio tersebut berasal dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Pertemuan penting ini dipimpin oleh Abdurrahman Saleh, seorang tokoh pergerakan sekaligus pelopor penyiaran radio di Indonesia.
Di tengah suasana penuh tekanan politik, para peserta rapat berdiskusi hingga menghasilkan sepakat untuk mendirikan lembaga penyiaran nasional yang dinamakan Radio Republik Indonesia atau disingkat RRI dengan Abdul Rahman Saleh sebagai pemimpin pertamanya. Pada hari itu pula dirumuskan tiga butir komitmen perjuangan yang kita kenal hingga hari ini sebagai Tri Prasetya RRI.
Lahirnya RRI langsung diuji oleh pertempuran fisik, peran RRI sangat vital dalam menyiarkan pidato-pidato dari Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Tomo saat pertempuran Surabaya. Ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948, semua pemancar RRI terpaksa dibongkar dan dilarikan ke dalam hutan pedalaman. Meskipun dengan kondisi yang sangat terbatas, pemancar RRI terus mengudara menyiarkan pesan bahwa Republik Indonesia belum mati.
RRI lahir bukan semata sebagai media hiburan melainkan sebagai alat diplomasi, benteng pertahanan, dan simpul pemersatu bangsa pada masa awal kemerdekaan. Tanggal 11 September kini tidak hanya diperingati sebagai hari lahir RRI tetapi juga ditetapkan sebagai hari radio nasional .
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....