Kemenko PM Dorong Transformasi Industri Bambu Selaawi Lewat Program “Gebrak Bambu”
- 28 Apr 2026 11:13 WIB
- Mataram
RRI.COMID, Garut — Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) terus memperkuat pembangunan kawasan perdesaan melalui program unggulan “Gebrak Bambu” di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut. Program ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam mendukung arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menitikberatkan pembangunan dari desa.
Kecamatan Selaawi ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Perdesaan Prioritas dengan komoditas unggulan bambu. Potensi lokal yang besar dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Kemenko PM menggelar Pelatihan Diversifikasi Produk Bambu pada 27–29 April 2026 di Aula Kecamatan Selaawi. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari pengrajin bambu dari tujuh desa serta perwakilan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Abdul Haris, menegaskan bahwa bambu kini memiliki nilai strategis di pasar global. Ia menyebutkan, nilai pasar bambu dunia pada 2025 diperkirakan mencapai USD 79,36 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 115,3 miliar pada 2030. Namun, kontribusi Indonesia dalam produksi olahan bambu masih berada di kisaran 1 persen.
“Bambu bukan lagi sekadar bahan bangunan tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari industri hijau global. Kesenjangan antara potensi dan realitas ini harus dijawab melalui peningkatan kapasitas, inovasi, dan kualitas produksi,” ujar Haris dalam arahannya.
Melalui pelatihan ini, peserta didorong untuk mengembangkan diversifikasi produk, meningkatkan efisiensi produksi, menerapkan standardisasi kualitas, serta membangun model usaha berbasis bambu yang berkelanjutan.
Program “Gebrak Bambu” merupakan hasil kolaborasi antara Kemenko PM, akademisi dari IPB University, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat penguatan ekosistem industri bambu di tingkat desa.
Menutup kegiatan, Haris mengajak para peserta menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing. Ia menekankan bahwa keterampilan para pengrajin merupakan aset penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Melalui program ini, Selaawi diharapkan berkembang sebagai pusat industri bambu yang inovatif dan berdaya saing, serta menjadi contoh sukses pembangunan perdesaan berbasis potensi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....