Mensos Gus Ipul Puji Gaya Kepemimpinan Gubernur Iqbal
- 16 Apr 2026 11:51 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Mensos RI, Saifullah Yusuf
- Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal
- Musrenbang NTB 2026
RRI.CO.ID, Mataram - Menteri Sosial (Mensos) RI, Saifullah Yusuf, memuji gaya kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, terutama dalam menyampaikan visi dan misi pembangunan daerah secara jelas dan mudah dipahami. Pujian itu disampaikan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTB yang digelar di Mataram, Kamis, 16 April 2026.
“Saya bangga dengan Gubernur NTB. Beliau mampu menjelaskan visi dan misi lima tahun ke depan dengan baik dan sederhana, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak,” ujar Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul.
Menurutnya, salah satu kunci utama keberhasilan seorang kepala daerah adalah kemampuan menyampaikan arah kebijakan secara terang kepada publik. Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui, memahami, sekaligus berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Ia menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik sebagai fondasi utama. “Kalau tata kelola sudah baik, maka aspek lain akan mengikuti termasuk peningkatan pendapatan dan kepercayaan publik,” katanya.
Dalam arahannya, Mensos juga menyinggung komitmen pemberantasan korupsi. Ia menilai, pesan antikorupsi yang disampaikan Gubernur NTB merupakan sinyal kuat bagi jajaran birokrasi.
“Sekarang bukan zamannya lagi korupsi. Cepat atau lambat pasti akan terungkap,” ujarnya.
Gus Ipul mengingatkan bahwa praktik korupsi kerap melibatkan banyak pihak, sehingga diperlukan komitmen bersama untuk menghentikannya. Ia mengajak seluruh elemen pemerintahan di daerah untuk bekerja secara kolektif dalam membangun sistem yang bersih dan transparan.
Selain itu, ia mengapresiasi cara Gubernur Iqbal menyampaikan isu-isu sosial dengan pendekatan yang sederhana namun mengena. Menurut dia, pesan tentang pentingnya memutus rantai kemiskinan selaras dengan amanat konstitusi, khususnya Pasal 34 UUD 1945 tentang kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar.
“Pesan-pesan sederhana itu justru kuat, karena menyentuh substansi persoalan. Bagaimana negara hadir memastikan anak-anak dari keluarga miskin tidak terus berada dalam lingkaran yang sama,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....