Teluk Ekas Jadi Pusat Riset Rumput Laut Tropis Dunia

  • 20 Feb 2026 21:22 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah pusat menetapkan Teluk Ekas di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau pusat riset rumput laut tropis dunia. Penetapan ini menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat ekonomi pesisir dan mendorong hilirisasi sektor kelautan berbasis riset.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengatakan penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi dan inovasi rumput laut dunia. Kebijakan ini, kata dia, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong transformasi ekonomi berbasis sumber daya unggulan nasional.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim. Foto: RRI/.Muh.Halwi.

“Pembangunan ITSRC di Teluk Ekas menjadi fondasi membangun ekosistem riset bertaraf global sekaligus mempercepat transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Stella dalam keterangan resminya, Jumat, 20 Februari 2026.

Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi komoditas ini diperkirakan mencapai US$ 12 miliar per tahun dan terus bertumbuh. Namun dominasi produksi tersebut dinilai belum sepenuhnya diimbangi penguatan riset, inovasi, dan hilirisasi di dalam negeri.

Karena itu, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Sejumlah lembaga global disebut akan terlibat, di antaranya University of California, Berkeley dan Beijing Genomics Institute (BGI). BGI berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp 3 miliar untuk dua tahun pertama. Sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp 1,5 miliar pada tahap awal pembangunan.

Secara ekologis, Teluk Ekas dinilai ideal sebagai living laboratory. Teluk tropis ini relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik serta mendukung pengembangan berbagai jenis rumput laut seperti Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.

Di kawasan tersebut akan dibangun gedung penelitian, asrama peneliti internasional, apotek, hingga sarana pendukung riset lainnya.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut positif penetapan tersebut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, menyebut kehadiran pusat riset bertaraf internasional ini diharapkan menjawab persoalan klasik budidaya rumput laut, terutama keterbatasan bibit unggul.

“Selama ini salah satu kendala utama petani adalah kelangkaan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi,” ujarnya.

Menurut dia, NTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional. Kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi diyakini dapat mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.

Sebagai bagian dari penguatan riset berbasis potensi daerah, Universitas Mataram turut terlibat dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana. Kampus tersebut akan berkolaborasi dengan peneliti dalam dan luar negeri, melengkapi fasilitas laboratorium hingga dukungan kapal penelitian.

Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan guna memperkuat layanan kesehatan wilayah kepulauan. Fasilitas ini diharapkan mendukung pendidikan dokter spesialis sekaligus memperluas akses layanan medis bagi masyarakat pesisir, khususnya di Lombok Timur.

Dengan kehadiran ITSRC, pemerintah daerah optimistis Teluk Ekas akan berkembang menjadi pusat inovasi rumput laut tropis dunia sekaligus motor penggerak ekonomi pesisir berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....