Mari Sambut Tahun Baru dengan Empati dan Kepedulian
- 29 Des 2025 14:02 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Pergantian tahun lazim dirayakan dengan gegap gempita, termasuk pesta kembang api di berbagai sudut kota. Namun, di tengah bencana alam yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia, momentum Tahun Baru patut dimaknai secara lebih bijak dan penuh empati. Data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem terjadi di beberapa daerah, antara lain Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan ribuan warga terdampak serta kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Menyikapi kondisi tersebut, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, melalui pernyataan resmi institusi Polri, mengimbau masyarakat untuk tidak menggelar pesta kembang api pada malam Tahun Baru. Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan dan ajakan moral agar masyarakat turut berbela sungkawa atas musibah yang tengah dihadapi saudara-saudara kita di berbagai daerah. Dalam situasi duka nasional, pengendalian euforia dinilai sebagai wujud empati kolektif.
Lebih lanjut, Polri juga mendorong masyarakat mengganti perayaan dengan doa bersama dan refleksi, baik secara pribadi maupun di lingkungan masing-masing. Langkah ini sejalan dengan semangat kebangsaan yang menempatkan solidaritas di atas perayaan semata. Di saat yang sama, Kementerian Sosial Republik Indonesia terus menyalurkan bantuan logistik dan layanan pemulihan bagi warga terdampak bencana, sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam penguatan solidaritas sosial.
Masyarakat pun diajak untuk berkontribusi melalui donasi dan bantuan kemanusiaan yang disalurkan lewat lembaga resmi seperti BNPB, Kementerian Sosial, dan Palang Merah Indonesia (PMI). Bantuan tidak selalu harus berupa materi besar, bisa berupa dukungan logistik, kebutuhan pokok, maupun doa tulus memiliki nilai yang sama pentingnya bagi para penyintas bencana.
Pada akhirnya, menyambut Tahun Baru tidak selalu harus dengan gemerlap cahaya. Di tengah bencana, sikap menahan diri, berdoa, dan berbagi justru menjadi cahaya kemanusiaan yang paling berarti. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada empati dan kepedulian warganya. (RRI/Irene Dyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....